Showing posts with label Batak. Show all posts
Showing posts with label Batak. Show all posts

Silsilah Dan Asal Usul Marga-Marga Batak dari Si Raja Batak

Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :

1. GURU TATEA BULAN.
2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN

Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
b. TUAN SARIBURAJA.
c. LIMBONG MULANA.
d. SAGALA RAJA.
e. MALAU RAJA.

- Putri :
1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).

TATEA BULAN artinya "TERTAYANG BULAN" = "TERTATANG BULAN".
RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).

Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.
karena penjelasannya cukup panjang
untuk lebih lengkapnya anda bisa download link brikut ini Donload sekarang

PUSUK BUHIT, GUNUNG LELUHUR BATAK

Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah. Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.

Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak.

Umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit, sebuah bekas gunung vulkanis dekat Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir). Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mula-mula Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit,. di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.

Sebelum menaiki puncak Pusuk Buhit Anda perlu berkeliling lingkar jalan tersebut sambil menikmati pemandangan ke kawasan hijau lembah, bukit, dan arah Danau Toba. Celah di bagian lingkar Timur Pusuk Buhit juga ada air hangat yang mengandung belerang jika angin pegunungan Bukit Barisan ternyata membuat badan semakin dingin menjelang malam. Setelah itu Anda dapat meneruskan rencana mencapai puncak Pusuk Buhit lewat jalan dan petunjuk dari perkampungan itu. Ketinggian Pusuk Buhit mencapai 1077 meter dari permukaan danau. Semoga dari puncak Pusuk Buhit Anda merasa akan dapat mencapai langit waktu bintang-bintang berkedipan di angkasa sebelum matahari terbit.

Jenis Ulos Batak

1. Ulos Jugia.

Ulos ini disebut juga “ulos naso ra pipot atau “pinunsaan”.
Biasanya ulos yang harga dan nilainya sangat mahal dalam suku Batak disebut ulos “homitan” yang disimpan di “hombung” atau “parmonang-monangan” (berupa Iemari pada jaman dulu kala). Menurut kepercayaan orang Batak, ulos ini tidak diperbolehkan dipakai sembarangan kecuali orang yang sudah “saur matua” atau kata lain “naung gabe” (orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan perempuan).

Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau belum mempunyai keturuan walaupun telah mempunyai cucu dari sebahagian anaknya, orang tua tersebut belum bisa disebut atau digolongkan dengan tingkalan saur matua. Hanya orang yang disebut “nagabe” sajalah yang berhak memakai ulos tersebut. Jadi ukuran hagabeon dalam adat suku Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan pangkat maupun kekayaan.

Tingginya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos sering menjadi barang warisan orang tua kepada anaknya dan nialainya sama dengan “sitoppi” (emas yang dipakai oleh istri raja pada waktu pesta) yang ukurannya sama dengan ukuran padi yang disepakati dan tentu jumlah besar.

2. Ulos Ragi Hidup.

Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak .
Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita. Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.

Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga ( dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain. Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir).
Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah.

Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang. Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.

Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).

Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia.

Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan didaerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
3. Ragi Hotang.

Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai ulos “Marjabu”. Dengan pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin seperti rotan (hotang).
Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat.
Pada jaman dahulu rotan adalah tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Inilah yang dilambangkan oleh ragi (corak) tersebut.
4. Ulos Sadum.


Ulos ini penuh dengan warna warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai untuk suasana suka cita. Di Tapanuli Selatan ulos ini biasanya dipakai sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja. Untuk mengundang (marontang) raja raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas piring besar (pinggan godang burangir/harunduk panyurduan).
Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang memakai ulos ini. Begitu indahnya ulos ini sehingga didaerah lain sering dipakai sebagai ulos kenang-kenangan dan bahkan dibuat pula sebagai hiasan dinding. Ulos ini sering pula diberi sebagai kenang kenangan kepada pejabat pejabat yang berkunjung ke daerah.
5. Ulos Runjat.

Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang sebagai ulos “edang-edang” (dipakai pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu diluar hasuhutan bolon, misalnya oleh Tulang (paman), pariban (kakak pengantin perempuan yang sudah kawin), dan pamarai (pakcik pengantin perempuan). Ulos ini juga dapat diberikan pada waktu “mangupa-upa” dalam acara pesta gembira (ulaon silas ni roha).

Kelima jenis ulos ini adalah merupakan ulos homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini jarang dipakai hingga tidak perlu dicuci dan biasanya cukup dijemur di siang hari pada waktu masa bulan purnama (tula).

6 Ulos Sibolang

Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan duka cita atau suka cita. Untuk keperluan duka cita biasanya dipilih dari jenis warna hitamnya menonjol, sedang bila dalam acara suka cita dipilih dari warna yang putihnya menonjol. Dalam acara duka cita ulos ini paling banyak dipergunakan orang. Untuk ulos “saput” atau ulos “tujung” harusnya dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain.

Dalam upacara perkawinan ulos ini biasanya dipakai sebagai “tutup ni ampang” dan juga bisa disandang, akan tetapi dipilih dari jenis yang warnanya putihnya menonjol. Inilah yang disebut “ulos pamontari”. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala peristiwa adat maka ulos ini dinilai paling tinggi dari segi adat batak. Harganya relatif murah sehingga dapat dijangkau orang kebanyakan. Ulos ini tidak lajim dipakai sebagai ulos pangupa atau parompa.

7. Ulos Suri-suri Ganjang.

Biasanya disebut saja ulos Suri-suri, berhubung coraknya berbentuk sisir memanjang. Dahulu ulos ini diperguakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipakai hula-hula menyambut pihak anak boru. Ulos ini juga dapat diberikan sebagai “ulos tondi” kepada pengantin. Ulos ini sering juga dipakai kaum wanita sebagai sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa. Bila dipakai sebagai ampe-ampe bisa mencapai dua kali lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga kelihatan sipemakai layaknya memakai dua ulos.

8. Ulos Mangiring.

Ulos ini mempunyai corak yang saling iring-beriring. Ini melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Ulos ini sering diberikan orang tua sebagai ulos parompa kepada cucunya. Seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir anak, kemudian lahir pula adik-adiknya sebagai temannya seiring dan sejalan. Ulos ini juga dapat dipakai sebagai pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali (detar) untuk kaum laki-laki. Bagi kaum wanita juga dapat dipakai sebagai saong (tudung). Pada waktu upacara “mampe goar” (pembaptisan anak) ulos ini juga dapat dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan pihak hula-hula kepada menantu. Bila mampe goar untuk anak sulung harus ulos jenis “Bintang maratur”.

9. Bintang Maratur.

Ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang yang teratur didalam ulos ini menunjukkan orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal “sinadongan” (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang, semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe), juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Sedangkan nilai dan fungsinya sama dengan ulos mangiring dan harganya relatif sama.

10. Sitoluntuho-Bolean.

Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai ulos parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan, yang dalam istilah adat batak dikatakan sebagai ulos panoropi yang diberikan hula-hula kepada boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntuho karena raginya/coraknya berjejer tiga, merupakan “tuho” atau “tugal” yang biasanya dipakai untuk melubang tanah guna menanam benih.

11. Uos Jungkit.

Ulos ini jenis ulos “nanidondang” atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dan keluarga Raja-raja untuk hoba-hoba yang dipakai hingga dada. Juga dipakai pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin.

Pada waktu dahulu kala, purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat Bandar Barus. Pada pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak ada lagi diperdagangkan. Maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara “manjungkit” (mengkait) benang ulos tersebut. Ragi yang dibuat hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang atau Lebong. Karena proses pembuatannya sangat sulit, menyebabkan ulos ini merupakan barang langka, maka kedudukannya diganti oleh kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik didaerah leluhur si Raja Batak pun pada waktu acara perkawinan kain songket ini biasa dipakai para anak gadis/pengantin perempuan sebagai pengganti ulos nanidondang. Disinilah pertanda atau merupakan suatu bukti telah pudarnya nilai ulos bagi orang Batak.

12. Ulos Lobu-Lobu.

Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Karenanya tidak pernah diperdagangkan atau disimpan diparmonang-monangan, itulah sebabnya orang jarang mengenal ulos ini. Bentuknya seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut ulos “giun hinarharan”. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.

Masih banyak lagi macam-macam corak dan nama-nama ulos antara lain: Ragi Panai, Ragi Hatirangga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi si Imput ni Hirik, Ulos Bugis, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Gipul, Ulos Takkup, dan banyak lagi nama-nama ulos yang belum disebut disini. Menurut orang-orang tua jenis ulos mencapai 57 jenis.

Seperti telah diterangkan, ulos mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara adat batak, karena itu tidak mungkin kita bicarakan adat batak tanpa membicarakan hiou, ois, obit godang atau uis yang kesemuanya adalah merupakan identintas orang Batak.

MENGENAL ULOS BATAK

JENIS DAN TATA CARA PENGGUNAANNYA

Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”.
Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”.
Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.

Proses pembuatan ulos batak.

Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.

Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.

Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.

Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan.
Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.

Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.

Yang Memberikan Ulos

Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada prinsipnya pihak hula-hulalah yang memberikan ulos kepada parboru/boru (dalam perkawinan). Tetapi diwilayah Pakpak / Dairi dan Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada kula-kula (kalimbubu) atau mora. Perbedaan spesifik ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna ulos dalam upacara adat.

Semua pelaksanaan adat batak dititik beratkan sesuai dengan “dalihan na tolu” (tungku/dapur terdiri dari tiga batu) yang pengertiannya dalam adat batak ialah dongan tubu, boru, hula-hula harus saling membantu dan saling hormat menghormati.
Di wilayah Toba yang berhak memberikan ulos ialah : 1. Pihak hula-hula (tulang, mertua, bona tulang, bona ni ari, dan tulang rorobot). 2. Pihak dongan tubu (ayah, saudara ayah, kakek, saudara penganten laki-laki yang lebih tinggi dalam kedudukan kekeluargaan). 3. Pihak pariban (dalam urutan tinggi pada kekeluargaan).

Ale-ale (teman kerabat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah diluar tohonan Dalihan na tolu (pemberian ale-ale tidak ditentukan harus ulos, ada kalanya diberikan dalam bentuk kado dan lain-lain).

Dari urutan diatas jelaslah bahwa yang berhak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan dari sipenerima ulos.

Penerima Ulos

Menurut tata cara adat batak, setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos sejak lahir hingga akhir hayatnya. Inilah yang disebut ulos “na marsintuhu” (ulos keharusan) sesuai dengan falsafah dalihan na tolu. Pertama diterima sewaktu dia baru lahir disebut ulos “parompa” dahulu dikenal dengan ulos “paralo-alo tondi”. Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (kawin) yang disebut ulos “marjabu” bagi kedua pengantin (saat ini desebut ulos “hela”).
Seterusnya yang ketiga adalah ulos yattg diterima sewaktu dia meninggal. dunia disebut ulos “saput”.

I. Ulos Saat Kelahiran.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga. 1. Bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping sianak, hanyalah orangtuanya saja (mar amani… ). 2. Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar disamping sianak, juga ayah dan kakeknya (marama ni… dan ompu ni… ).

Gelar ompu… bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan “si”, maka gelar yang diperoleh itu diperdapat dari anak sulung perempuan (ompung bao).
Bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar ompu yang diterimanya berasal dari anak sulung laki-laki (Ompung Suhut).

Untuk point pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan dua buah ulos yaitu ulos parompa untuk sianak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk sianak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri-suri ganjang atau ulos sitoluntuho.
Untuk point kedua, hula-hula harus menyediakan ulos sebanyak tiga buah, yaitu ulos parompa untuk sianak, ulos pargomgom untuk ayahnya, dan ulos bulang-bulang untuk ompungnya.

Seiring dengan pemberian ulos selalu disampaikan kata-kata yang mengandung harapan agar kiranya nama anak yang ditebalkan dan setelah dianya nanti besar dapat memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Disampaikan melalui umpama (pantun). Pihak hula-hula memberikan ulos dari jenis ulos bintang maratur, tetapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh saja ulos mangiring.

II. Ulos Saat Perkawinan

Dalam waktu upacara perkawinan, pihak hula-hula harus dapat menyediakan ulos “si tot ni pansa” yaitu; 1. Ulos marjabu (untuk pengantin), 2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki, 3. Ulos pamarai diberikan pada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah, 4. Ulos simolohon diberikan kepada iboto (adek/kakak) pengantin laki-laki. Bila belum ada yang menikah maka ulos ini dapat diberikan kepada iboto dari ayahnya. Ulos yang disebut sesuai dengan ketentuan diatas adalah ulos yang harus disediakan oleh pihak hula-hula (orang tua pengantin perempuan).

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan (sihunti ampang) hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita melihat begitu banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut “ragi-ragi ni sinamot”. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama (pantun) dalam suku Batak disebut “malo manapol ingkon mananggal”. Pantun ini mengandung pengertian, orang Batak tidak mau terutang adat.
Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima “goli-goli” dari ragi-ragi ni sinamot. Timbul kedudukan yang tidak sepatutnya (margoli-goli) sehingga undangan umum (ale-ale) dengan dalih istilah “ulos holong” memberikan pula ulos kepada pengantin.

Tata cara pemberian.
Sebuah ulos (biasanya ragi hotang) disediakan untuk pengantin oleh hula-hula. Orang tua pengantin perempuan langsung memberikan (manguloshon) kepada kedua pengantin yang disebut “ulos marjabu”. Apabila orang tua pihak perempuan diwakilkan kepada keluarga dekat, maka dia berhak memberikan ulos kepada pengantin, akan tetapi bila orang tua laki-laki yang diwakilkan, maka ulos pansamot harus diterima secara terlipat.

Sedangkan ulos pargomgom (untuk pangamai) dapat diterima menurut tata cara yang biasa, dan pada peristiwa ini harus disediakan ulos sebanyak dua helai (ulos pasamot dan ulos pargomgom). Dalam penyampaian ulos biasanya diiringi dengan berbagai pantun (umpasa) dan berbagai kata-kata yang mengandung berkah (pasu-pasu). Setelah diulosi dilanjutkan penyampaian beras pasu-pasu (boras sipir ni tondi) ditaburkan termasuk kepada umum dengan mengucapkan “h o r a s” tiga kali.

Selanjutnya menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau yang mewakilinya dalam hal ini seiring dengan penyampaian umpasa dan kata-kata petuah. Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos si tot ni pansa kepada pamarai dan simolohon. Biasanya pemberian ini disampaikan oleh suhut paidua (keluarga/turunan saudara nenek).
Setelah ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang (paman) pengantin laki-laki.

Tata cara urutan pemberian ulos adalah sebagai berikut; 1. Mula-mula yang memberikan ulos adalah orang tua pengantin perempuan, 2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan termasuk tulang rorobot, 3. Kemudian disusul pihak dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang disebut paidua (pamarai), 4. Kemudian disusul oleh oleh pariban yaitu boru dari orang tua pengantin perempuan, 5. Dan yang terakhir adalah tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari paranak dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari paranak. Bahagian ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang/paman pengantin laki-laki, inilah yang disebut “tintin marangkup”.

III. Ulos Saat Kematian.

Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberikan kepada seseorang ialah ulos yang diterima pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat (status memurut umur dan turunan) seseorang menentukan jenis ulos yang dapat diterimanya.

Jika seseorang mati muda (mate hadirianna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut “parolang-olangan” biasanya dari jenis parompa.
Bila seseorng meninggal sesudah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka kepadanya diberi ulos “saput” dan yang ditinggal (duda, janda) diberikan ulos “tujung”.
Bila yang mati orang tua yang sudah lengkap ditinjau dari segi keturunan dan keadaan (sari/saur matua) maka kepadanya diberikan ulos “Panggabei”.

Ulos “jugia” hanya dapat diberikan kepada orang tua yang keturunannya belum ada yang meninggal (martilaha martua).

Khusus tentang ulos saput dan tujung perlu ditegaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak “tulang”, sebagai bukti bahwa tulang masih tetap ada hubungannya dengan kemenakan (berenya).
Sedang ulos tujung diberikan hula-hula, dan hal ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah.

Tata cara pemberiannya.
Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga, setelah hula-hula mendengar khabar tentang ini, disediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak tulang menyediakan ulos saput. Pemberiannya diiringi kata-kata turut berduka cita (marhabot ni roha). Setelah beberapa hari berselang, dilanjutkan dengan acara membuka (mengungkap) tujung yang dilakukan pihak hula-hula. Setelah mayat dikubur, pada saat itu juga ada dilaksanakan mengungkap tujung, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hula-hula menyediakan beras dipiring (sipir ni tondi), air bersih untuk cuci muka (aek parsuapan), air putih satu gelas (aek sitio-tio). Pelaksanaan acara mengungkap tujung umumnya dibuat pada waktu pagi (panangkok ni mata ni ari). Setelah pihak hula-hula membuka tujung dari yang balu, dilanjutkan dengan mencuci muka (marsuap). Anak-anak yang ditinggalkan juga ikut dicuci mukanya, kemudian dilanjutkan dengan penaburan beras diatas kepala yang balu dan anak-anaknya.

Memberi ulos panggabei.
Bila seseorang orang tua yang sari/saur matua meninggal dunia, maka seluruh hula-hula akan memberi ulos yang disebut ulos Panggabei. Biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, dan cicit). Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula-hula mulai dari hula-hula, bona tulang, bona ni ari, dan seluruh hula-hula anaknya dan hula-hula cucu/cicitnya.
Acara kematian untuk orang tua seperti ini biasanya memakan waktu sangat lama, adakalanya mencapai 3-5 hari acaranya. Biaya acaranya cukup besar, karena inilah acara puncak kehidupan orang yang terakhir.

Simardan – Durhaka Kepada Orang Tua, Berubah Wujud Menjadi Pulau

Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas. Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan. Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.

Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.

Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai. Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red). Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli. Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun

Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga. Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.

“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu

Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung. Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.

Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.” Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal

Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.

Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.

Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung. “Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”

Hikayat Boru Napuan

Raja Mangatur (II) Manurung menikah dengan Nantiraja Boru Rumapea putri dari Pu Lahang Mahua Rumapea dari pulau Samosir. Raja Mangatur (II) Manurung adalah kakek dari Tuan Sogar Manurung. Pu Lahang Mahua Rumapea memiliki tiga orang putra dan tiga orang putri.

Ketiga orang putranya itu adalah

1. Puraja Naginjang,
2. Guru Badia
3. Raja Natota.

Dan ketiga orang putrinya adalah :

1. Nantiraja menikah dengan Raja Mangatur Manurung
2. Nanti Malela menikah dengan marga Tamba/Saragi
3. Siulatahi menikah dengan marga Sitanggang

Boru Nantiraja istri Raja Mangatur telah memiliki beberapa orang anak laki-laki dan adiknya Nantimalela yang menikah ke Tamba/Saragi telah memiliki beberapa orang anak perempuan. Ketika Nantiraja baru melahirkan anak lakilaki, beberapa hari kemudian, adiknya Nantimalela melahirkan seorang putri di Pulau Samosir. Nantiraja berangkat ke Samosir mengunjungi adiknya yang baru melahirkan, dan putranya yang baru lahir turut dibawa.

Nantiraja memangku putri adiknya itu, dan Nantimalela juga memangku putra kakaknya. Setelah puas melepas rindu dan kebahagiaan mereka, Nantiraja pulang ke Uluan. Diperjalanan, saat mengganti popok bayinya, dia menyadari bahwa bayi yang dipangkuannya adalah perempuan, dan sudah pasti adalah bayi adiknya Nantimalela. Nantimalela juga mengalami hal yang sama di Samosir, putra kakanya tertinggal dan putrinya terbawa. Setelah berita itu saling diketahui kedua belah pihak, akhirnya disepakati akan mengembalikan pada waktu ada kesempatan.

Lama kelamaan, mereka menyayangi bayi tersebut dan dianggap anak sendiri dan dibesarkan hingga dewasa. Marga yang mereka gunakan untuk anaknya itu adalah sesuai dengan marga suaminya masing-masing.

Putra Nantimalela yang dilahirkan Nantiraja tetap menggunakan marga Tamba/Tamba dan tinggal di Samosir.

Putri Nantiraja yang dilahirkan Nantimalela diberi nama Boru Napuan dengan gelar Boru Inggal-inggal dan dimanjakan dan disayang semua keluarga Manurung dan tetap menggunakan marga Manurung.

Setelah dewasa, Boru Napuan menikah dengan Raja Parmata Manunggal Damanik dari Sipolha. Manurung bersaudara mendapatkan berupa barang pusaka dari mertua Napuan karena Raja Parmata Manunggal adalah turunan orang berada dan seorang raja yang dihormati di Sipolha.

Menyimak Berbagai Analisa Dan Penelitian “Batak” Artinya Penunggang Kuda = Keberanian?

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu. Di suratkabar Pewarta Deli no. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah diantara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak“, yang ertinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

sory bro karena penjelasan ini memakai halaman yg cukup banyak untuk lengkapnya anda bisa melihatnya disini

Legenda Putri Bidadari “Si Boru Natumandi Hutabarat”

gadis ini selalu dipingit oleh kedua orangtuanya karena parasnya yang cukup cantik bak seorang bidadari. Di zamannya, gadis ini diyakini yang tercantik diantara gadis-gadis di Silindung (Tarutung). Tak heran, banyak pria yang tergila-gila kepadanya. Namun gadis ini menurut cerita masyarakat dan keturunan keluarganya yang saat ini masih hidup terakhirnya menikah dengan seekor ular.
Berikut hasil penelusuran wartawan media ini, tentang legenda Si Boru Natumandi selama sebulan lebih. Berawal saat si boru Natumandi diusianya yang sudah beranjak dewasa, memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai seorang petenun ulos. Disebuah tempat khusus yang disediakan oleh orangtuanya, setiap hari Si boru Natumandi lebih sering menyendiri sambil bertenun, kesendirian itu bukan karena keinginannya untuk menghindar dari gadis-gadis desa seusianya, namun karena memang kedua orangtuanya lah memingit karena terlalu sayang.
Sayang, saat penelusuran ke berbagai narasumber untuk mengetahui siapa sebenarnya nama kedua orangtuanya, marga-marga Hutabarat yang tinggal di Desa Hutabarat Banjar Nauli, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Tempat asal kampung halaman Si boru Natumandi) tidak satupun yang mengetahui persis siapa nama kedua orangtuanya.

Namun salah satu warga Desa Hutabarat yakni Lomo Hutabarat (51) yang mengaku satu garis keturunan dengan keluarga Si Boru Natumandi belum lama ini berkata, bahwa dulunya kampung halaman Siboru Natumandi adalah di Dusun Banjar Nahor, Desa Hutabarat, namun dusun itu kemudian pindah sekitar 500 meter dari desa semula dan sekarang diberi nama Dusun Banjar Nauli.
Dikatakan Lomo Hutabarat, bahwa dari 3 anak si Raja Nabarat (Hutabarat) antara lain Sosunggulon, Hapoltahan dan Pohan, Si boru Natumandi dikatakan berasal dari keturunan Hutabarat Pohan. Hanya penuturan itu yang dapat diperoleh dari Lomo Hutabarat. Sementara itu keturunan Si boru Natumandi lainnya yakni L Hutabarat (76) mengisahkan, bahwa dia juga tidak mengetahui persis cerita yang sebenarnya tentang Si boru Natumandi, menurutnya ada beberapa versi tentang legenda gadis cantik ini.
Berikut kisah Siboru Natumandi yang diketahui L Hutabarat. Suatu hari di siang bolong, Si boru Natumandi sibuk bertenun di gubuk khususnya, tiba-tiba seekor ular besar jadi-jadian menghampirinya, konon ular tersebut dikatakan orang sakti bermarga Simangunsong yang datang dari Pulau Samosir. Saat ular itu berusaha menghampiri si boru Natumandi, ia justru melihat sosok ular tersebut adalah seorang pria yang gagah perkasa dan tampan. Saat itulah, sang ular berusaha merayu dan mengajak Si boru Natumandi untuk mau menikah dengannya.
Melihat ketampanan dan gagahnya sang ular jadi-jadian tersebut, Siboru Natumandi akhirnya menerima pinangan tersebut, setelah pinangannya diterima, sang ular kemudian mengajak Si Boru Natumandi untuk pergi menuju kearah sungai Aek Situmandi dan melewati tempat pemandian sehari-hari Si boru Natumandi di Sungai Aek Hariapan. Dari tempat itu, mereka meninggalkan pesan kepada orangtua Si Boru Natumandi dengan cara menabur sekam padi dari tempat bertenun hingga ke Liang Siboru Natumandi sekarang. Pesan sekaligus tanda itu artinya agar Bapak/Ibu dan semua keluarga mengetahui kalau dia telah pergi dan akan menikah dengan seorang pria, dimana sekam padi tersebut bermakna sampai dimana sekam ini berakhir, disitulah Si Boru Natumandi berada.
Sore harinya, saat kedua orangtuanya pulang dari perladangan, mereka mulai curiga melihat putri semata wayang mereka tidak ada ditempatnya bertenun dan juga tidak ada dirumah, akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk memberitahukan warga sekitar untuk melakukan pencarian.
Melihat sekam padi yang bertaburan bak sebuah garis pertanda dan tak kunjung ditemukannya Si boru Natumandi hingga keesokan harinya, akhirnya taburan sekam di tepi sungai Aek Situmandi dan berujung disebuah liang/gua yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kampung halaman Si boru Natumandi diyakini kalau Si boru Natumandi menikah dengan seekor ular.
Namun versi cerita lainnya, ternyata Si boru Natumandi tidak menikah dengan siluman ular yang bermarga Simangunsong, akan tetapi siluman ular tersebut malah meninggalkan si boru Natumandi begitu saja disebuah hamparan tak berpenduduk.
Setelah ditinggalkan begitu saja, Si boru Natumandi terus menerus menangis karena telah tertipu siluman ular tersebut, namun ketika itu seorang pengembala datang dan menghampirinya, penggembala tersebut juga terpikat melihat keindahan tubuh dan kecantikannya, lalu sipengembala mengajaknya agar mau menikah dengannya. Konon dalam versi ini, si pengembala tersebut dikatakan bermarga Sinaga.
Sipengembala kemudian membawa Si boru Natumandi ke Pulau Samosir untuk dinikahi. Berselang beberapa generasi keturunan si boru Natumandi dan sipengembala bermarga Sinaga tersebut di Samosir, keturunannya dikatakan pernah berusaha mencari asal usul si boru Natumandi (Untuk mencari Tulang/pamannya). Usaha pun dimulai dengan menyeberangi Danau Toba dengan sebuah perahu kayu menuju Kota Tarutung dengan membawa sejumlah makanan khas adat batak. Namun sesampainya di Sipoholon (Kota Sebelum Tarutung saat ini) ada keturunan Hutabarat Pohan bermukin disana, yakni dari keturunan Raja Nabolon Donda Raja.
Saat rombongan bertanya tentang Si boru Natumandi, keturunan Raja Nabolon Donda Raja yang tinggal di Sipoholon langsung mengakui kalau merekalah keturunan si boru Natumandi, dan saat itu makanan yang dibawa keturunan si boru Natumandi langsung mereka terima hingga akhirnya acara syukuran pun dilakukan. Padahal keturunan Si boru Natumandi sebenarnya adalah anak kedua dari si Hutabarat Pohan yakni si Raja Nagodang yang sampai saat ini masih ada tinggal di Dusun Banjar Nauli.
Setelah acara syukuran dilakukan, rombongan keturunan Si Boru Natumandi pun berangkat kembali ke Samosir untuk memberitahukan kabar tersebut kepada keluarga. Namun saat menyeberangi Danau Toba perahu yang mereka tumpangi tenggelam hingga semua yang ada dalam perahu meninggal dunia.
Versi selanjutnya, Si boru Natumandi dikatakan menikah dengan resmi, hal ini menurut L Hutabarat, karena sejak dia masih kecil pernah melihat sebuah guci yang terbuat dari kayu tempat mas kawin si boru Natumandi di rumah saudaranya boru Simatupang. Saat itu, boru Simatupang mengatakan kepada L Hutabarat bahwa guci tersebutl adalah tempat mas kawin si boru Natumandi.
Guci tersebut konon memiliki sejarah tersendiri, dimana isi guci tersebut hanya dipenuhi kunyit yang suatu saat akan berubah menjadi kepingan/batangan emas, hal ini diberikan dan dipastikan keluarga suami Si boru Natumandi yang memiliki kesaktian, dan selanjutnya kepada kedua orangtuanya diminta untuk tidak membuka guci tersebut sebelum tujuh hari tujuh malam. Akan tetapi, orangtua Si boru Natumandi melanggar permintaan tersebut.
Setelah kedua orangtuanya membuka guci itu, ternyata kunyit tersebut sudah mulai berubah mejadi batangan emas murni. Nasib sial pun dialami kedua orangtua si boru Natumandi kala itu. Tatkala usia orangtua si boru Natumandi beranjak ujur, akhirnya mereka menimbun emas tersebut di Dolok Siparini (Masih di Desa Hutabarat) karena takut akan menjadi bahan rebutan bagi adik-adiknya dan keluarganya (Dari pihak laki-laki) suatu saat nanti, sebab banyak diantara keluarganya yang mengetahui tentang kisah guci ini.
“Cerita saya ini bukanlah yang menjadi sejarah yang pasti, saya juga hanya mendengar cerita-cerita dari sejak saya masih kecil, sehingga cerita saya tadi bukanlah yang bisa saya bilang pasti, kalau cerita sejarah yang sebenarnya tidak ada lagi sekarang yang tahu,” tutur L Hutabarat sambil meneguk kopinya yang sudah mulai dingin.
Saat ini, lokasi Gua Liang Si Boru Natumandi dijadikan sebagai salah satu objek wisata oleh Pemkab Taput. Banyak orang berkunjung ke tempat ini untuk meminta rejeki atau hal-hal lain. Hal terbukti dimana dilokasi liang Si Boru Natumandi terdapat tumpukan-tumpukan sesajen yakni berupa puntungan-puntungan rokok yang tersusun teratur dan beberapa kelopak daun sirih. Sayangnya, penataan objek wisata ini masih kurang mendapat perhatian dari pihak Pemkab Tapanuli Utara. Sebab disekitar lokasi ini, masih belum ada penataan objek wisata yang baik, dan masih banyaknya sampah di areal gua in

Lappet dan Ombus-ombus, Kue Tradisional Batak


Tiap daerah biasanya punya penganan khas tradisional. Meski pun Medan memiliki penganan khas Bika Ambon, namun masih ada kue tradisional Batak yang hingga kini tetap disukai yaitu lappet dan ombus-ombus.
Lappet dan ombus-ombus adalah kue tradisional Batak. Tak jelas sejak kapan penganan ini mulai “membudaya”. Namun pada acara seremonial adat Batak tertentu, biasanya lappet atau ombus-ombus tetap menjadi hidangan sela dibarengi kopi atau teh.

Lappet dan ombus-ombus adalah dua jenis penganan yang berbeda. Namun keduanya terbuat dari bahan yang sama: tepung beras, kelapa, gula merah (aren). Namun untuk lappet performanya tak jauh beda dengan lepat pisang. Tetapi rasa dan bahannya jelas beda.
Perbedaan antara lappet dan ombus-ombus ada pada bentuk olahan dan rasa. Lapet biasanya dibentuk menyerupai limas dan dibungkus daun pisang. “Sementara Ombus-ombus, bentuknya bulat dan tidak dibungkus dengan apapun,” kata B Hutabarat salah satu penjual lapet dan ombus-ombus selama puluhan tahun.

Mangarabar, rujak the Tapanuli way

Rujak (roujack) or rojhak is a sweet sour salad made from fruits and vegetables and is mostly eaten as a snack between meals throughout Indonesia. The fruit and vegetable variations are many. Some regions even have rujak in their array of ceremonial foods.

Take for example the custom of mangarabar when the harvest is nearly finished and people have some leisure time in many villages in Tapanuli. Mangarabar is a word in the Batak Mandailing dialect, meaning to prepare a rujak.

Mangarabar in Tapanuli, especially in villages, differs from preparing a rujak or sweet and sour salad in urban regions. The difference is especially noted in the ingredients, preparation and most important the situation when a mangarabar is required.

To make a rabar (rujak) during a mangarabar requires a certain set of obligatory ingredients consisting of three main ingredients which are red chilies, salt and unripe or green fruits.

The fruits are plantain, cempedak and belimbing (star fruit). All the ingredients are then put into a traditional stamper or lesung and coarsely pound.

Arranging a mangarabar after harvest may seem a very simple affair but not executing it will be regarded as a rather serious mistake in many villages in Tapanuli.

The time to arrange a mangarabar is mostly decided by some village elders when they are having a casual meeting at somebody’s house. Children, teenagers, elderly people are welcome to join to make the event successful.

Arrangement is planned so that the mangarabar will be a pleasant get-together. They look for the fruits for the right ripeness and also for a place large enough to accommodate many people.

Choices will be sometimes difficult because even the elderly and those with a small home will offer their place for the mangarabar.

People also offer for organizers to use their fruits or vegetables. And young men cut a banana tree while teenagers clean and cut the fruits and vegetables to put into the lesung or traditional stamping utensil.

Red chilies and salt along with granulated sugar to make the rabar more delicious is donated by the elderly, who use sugar to sweeten their morning coffee.

Those who are not able to give any basic ingredients help to stamp the rabar.

For many people, the mangarabar is a way of showing togetherness. It gives those involved a satisfied and proud feeling. Those who are too lazy to help will feel awkward when offered a portion of rabar.

While enjoying the rabar, people talk about plans for the next harvest, and, of course, expectations are the next mangarabar will be just as successful.

Mangarabar is really a special event for the inhabitants of the Batak Mandailing region in Tapanuli and a much anticipated date after harvest.

Rujak is sold by vendors, who display a colorful array of fruit in their glass container. Normally available is a rujak of yam beans, cucumber, pineapple and some colorful fruits like varieties of guavas.

Last but not least just to give you a small variety of regional rujak here are some recipes from all around the archipelago from Jakarta to Manado.

Recipes

1. Rujak Campur

A rujak from Jakarta and suburbs

Ingredients:

1 fresh pineapple, peeled, eyes removed, cut into cubes or matchstick size, 450 g
1 tsp salt, for coating the pineapple
1 bengkuang (yam bean), peeled, cut into cubes or matchstick size, 400g
1 unripe mango, peeled, cut into cubes or thin slices, 300 g
An unripe papaya, cut into matchstick size, 100 g
1 belimbing (star fruit), thinly sliced, 50 g
3 jambu air merah (red water apple), thinly sliced, 150 g
75 g boiled beef, cut into matchstick size

For the sauce:
1 red chili, 10 g
2 chili paddy, 10 g
1/2 tsp salt or to taste
2 pisang batu (small stony plantain, seeds discarded, optional), 20 g
150 g brown sugar
1/4 tsp petis udang (fermented shrimp paste)
1 tbs tamarind liquid

Method:

To make the sauce:
Make a paste of red chili, chili paddy, salt, small stony plantain, brown sugar and fermented shrimp paste. Add tamarind liquid.

How to serve:
1. Mix pineapple, yam bean, mango, papaya, starfruit, water apple and boiled meat. Pour sauce over it. Mix again.

Makes: 8 servings.

2. Gohu

A typical rujak from Manado

Ingredients:

1 unripe papaya, peeled, seeds discarded, cut in matchstick size, 250 g
3 shallots, 30 g
2 red chilies, 20 g
3 chili paddy, 15 g
2 slices of fresh ginger
1 tsp mashed, roasted trassi
3 tbs vinegar or to taste
4 tbs granulated sugar
2 tsp salt or to taste
600 ml cooked or bottled water

Method:

1. Make a paste of shallots, red chilies, chili paddy and ginger
2. Add trassi, vinegar, sugar, salt and water
3. Add papaya into liquid and let stand at least one hour to fully absorb the sauce.

Makes: 6 - 8 servings

3. Rujak Donggala

From South Sulawesi a rujak to taste

Ingredients:

A ripe pineapple, peeled, eyes removed, cut in small slices, 350 g
An unripe papaya, peeled, seeds discarded, cut in small slices, 300 g
300 g kedondong (seasonal), peeled, cut in small slices
300 g bengkuang (yam bean), peeled, cut in small slices
250 g sawi asin (fermented flowering cabbage), cut in slices,
300 g brown sugar
250 ml cooked or bottled water
A pinch of salt or to taste
100 g fried unpeeled peanuts
1 tbs bubuk cabai (chili powder), 7 g

Method:

1. Put brown sugar and water into a pot. Season with salt and boil until sugar is completely dissolved. Sieve and mix with the fruits.
2. Top with fried peanuts and chili powder.

Makes: 8 servings.

4. Rujak Serut Sukabumi

From cooler regions a grated rujak

Ingredients:

A fresh carrot, peeled, grated, 20 cm
3 kedondong, peeled, grated, 300 g
1 bengkuang, peeled, grated, 300 g
1 tbs tamarind liquid
2 red chilies, 20 g
3 chili paddy, 15 g
1/2 tsp roasted trassi
50 g brown sugar
1/2 tsp salt or to taste
2 tsp sweet tauco (taucheo)

Method:

1. Mix carrots, kedondong and bengkuang thoroughly, add tamarind liquid, mix again.
2. Make a paste of red chilies, chili paddy, trassi, brown sugar, salt and taucheo.
3. Pour sauce over the grated carrot, kedondong and yam bean. Let stand in a cool place or in the refrigerator for at least one hour.
4. Serve cold.

Makes: 4 servings

Sumber : (Suryatini N. Ganie) The Jakarta Post, Jakarta

Asal Usul Nama MEDAN

Disebabkan letaknya yang berada di Tanah Deli, Kampung Medan juga sering dikenal sebagai Medan-Deli. Lokasi asli Kampung Medan adalah sebuah tempat di mana Sungai Deli bertemu dengan Sungai Babura. Terdapat berbagai kerancuan dari berbagai sumber literatur mengenai asal-usul kata "Medan" itu sendiri. Dari catatan penulis-penulis Portugis yang berasal dari awal abad ke-16, disebutkan bahwa Kota Medan berasal dari nama "Medin", sedangkan dari sumber lainnya menyatakan bahwa Medan Berasal dari bahasa India "Meiden", yang lebih kacau lagi bahwa ada sebagian

masyarakat yang menyatakan bahwa disebutkannya kata "Medan" karena kota ini merupakan tempat atau area bertemunya berbagai suku sehingga disebut sebagai medan pertemuan. Adapula yang mengatakan ketika para saudagar arab yang kebetulan melihat tanah medan sekarang mereka mengatakan Median yang berarti datar atau rata, dan memang pada kenyataan nya medan memiliki kontur tanah yang rata mulai pantai belawan sampai ke daerah pancur batu. dan bila dilihat dari ketinggian maka terlihat medan seperti hamparan tanah yang datar

Namun demikian, ada baiknya kita kembalikan pengertian istilah Medan itu sendiri pada tempat yang semestinya. Bila kita menilik dari sumber-sumber sejarah bahwa kota Medan pertama sekali didiami oleh suku Karo, tentunya kata "Medan" itu haruslah berasal dari bahasa Karo.

Dalam salah satu Kamus Karo-Indonesia yang ditulis oleh Darwin Prinst SH: 2002, bahwa Kata "Medan" berarti "menjadi sehat" ataupun "lebih baik". Hal ini memang berdasarkan pada kenyataan bahwa Guru Patimpus benar adanya adalah seorang tabib yang dalam hal ini memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional Karo pada masanya.

Medan pertama kali ditempati oleh orang-orang Suku Karo. Hanya setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda, mengirimkan panglimanya, Gocah Pahlawan Bergelar Laksamana Khoja Bintan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli, barulah Kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan ini ikut mendorong pertumbuhan dari segi penduduk maupun kebudayaan Medan. Di masa pemerintahan Sultan Deli kedua, Tuanku Panglima Parunggit (memerintah dari 1669-1698), terjadi sebuah perang kavaleri di Medan. Sejak saat itu, Medan menjadi pembayar upeti kepada Sultan Deli.

Asal Usul Danau Toba


Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar," gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku." Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam petani.

"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu. "Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu," kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! " kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

Moral : Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan.

Asal Usul Kesultanan Barus

Kesultanan Barus merupakan kelanjutan kerajaan di Barus paska masuknya Islam ke Barus. Islam masuk ke Barus pada awal-awal munculnya agama Islam di semenanjung Arab.
Dalam sebuah penggalian arkeologi, ditemukan Makam Mahligai sebuah perkuburan bersejarah Syeh Rukunuddin dan Syeh Usuluddin yang menandakan masuknya agama Islam pertama ke Indonesia pada Abad ke VII Masehi di Kecamatan Barus.
Kuburan ini panjangnya kira-kira 7 meter dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan unik dengan bertulisan bahasa Arab, Tarikh 48 H dan Makam Mahligai merupakan Objek Wisata Religius bagi umat Islam se-Dunia yang Letaknya 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan.

Raja pertama yang menjadi muslim adalah Raja Kadir yang kemudian diteruskan kepada anak-anaknya yang kemudian bergelar Sultan.
Raja Kadir merupakan penerus kerajaan yang telah turun-temurun memerintah Barus dan merupakan keturunan Raja Alang Pardosi, pertama sekali mendirikan pusat Kerajaaannya di Toddang (tundang), Tukka, Pakkat - juga dikenal sebagai negeri Rambe, yang bermigrasi dari Balige dari marga Pohan.
Pada abad ke-6, telah berdiri sebuah otoritas baru di Barus yang didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu, yang akhirnya membentuk Dulisme kepemimpinan di Barus.
Rujukan
1. Naskah Jawi yang dialihtuliskan dan dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Bar
2. A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom(Cornell Southeast Asia Project, 1990)
3. Sejarah Raja-Raja Barus (Ecole Franéaise d'Extréme-Orient, 1988)
4. A Kingdom of Words: Language and Power in Sumatra (Oxford University Press, 1999)

Daftar Marga Dalam Suku Batak

“Salah satu versi ada yang menyebutkan 479 marga Batak. Dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak Karya besar : Alm. H.B. situmorang BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983. jika ada kesalahan dalam penulisan maka penulis mohon maaf. Mungkin ada juga masukkan dari para pembaca mengenai marga dalam suku batak, maka penulis sangat berterima kasih dimana ditujukan untuk kelengkapan informasi yang nantinya akan dibagikan untuk bersama

A.
AMBARITA
AMPAPAGA (SIAMPAPAGA)
ANAK AMPUN BUKAN AMPUN (NAHAMPUNGAN)
ANGKAT
ANGKAT SINGKAPAL
ARITONANG
ARUAN

B.
BABIAT
BAHO (NAIBAHO)
BAKO
BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
BANJARNAHOR (MARBUN)
BANCIN
BAKKARA
BARINGBING (TAMPUBOLON)
BARUARA (TAMBUNAN)
BARUTU (SITUMORANG)
BERUTU bukan BARUTU (SINAGA), ini marga PAKPAK
BATUARA (NAINGGOLAN)
BATUBARA
BERASA
BERAMPU bukan BARAMPU, ini marga PAKPAK
BERINGIN bukan BARINGIN, ini marga PAKPAK
BINJORI
BINTANG
BOANGMANALU
BOLIALA
BONDAR
BORBOR, tidak ada marga BORBOR, yang ada klen BORBOR
BUATON
BANUREA bukan BUNUREA (BANUAREA), ini marga PAKPAK
BUNJORI
BUTARBUTAR
D.
DABUTAR (SIDABUTAR ?)
DAIRI (SIMANULLANG)
DAIRI (SINAMBELA)
DALIMUNTE bukan DALIMUNTA (MUNTE ?), ini marga ANGKOLA
DEPARI bukan DAPARI
DAULAE
DEBATARAJA (SIMAMORA)
DEBATARAJA (RAMBE)
DOLOKSARIBU
DONGORAN
DOSI (PARDOSI)
G.
GAJAH bukan GAJA, ini marga PAKPAK
GAJAH DIRI bukan GAJADIRI
GAJAH MANIK bukan GAJA MANIK, ini marga PAKPAK
GIRSANG
GORAT
GULTOM
GURNING
GUSAR
H.
HABEAHAN
HARAHAP
HARIANJA
HARO
KAROKARO bukan HAROHARO, ini marga KARO
HASIBUAN
HASUGIAN
HUTABALIAN
HUTABARAT
HUTAJULU
HUTAGALUNG
HUTAGAOL (LONTUNG)
HUTAGAOL (SUMBA)
HUTAHAEAN
HUTAPEA
HUTASOIT
HUTASUHUT
HUTATORUAN
HUTAURUK
K.
KESUGIHEN bukan KASOGIHAN, ini marga PAKPAK
KUDADIRI
L.
LAMBE
LIMBONG
LINGGA
LONTUNG, marga ini setahu saya tiadak ada, yang ada adalah klen LONTUNG
LUBIS
LUBIS HUTA NOPAN (SINGENGU) bukan LUBIS HATONOPAN
LUBIS SINGASORO
LUMBANBATU
LUMBANDOLOK
LUMBANGAOL (MARBUN)
LUMBANGAOL (TAMBUNAN)
LUMBAN NAHOR (SITUMORANG)
LUMBANPANDE (SITUMORANG)
LUMBANPANDE (PANDIANGAN)
LUMBANPEA (TAMBUNAN)
LUMBANRAJA
LUMBAN SIANTAR
LUMBANTOBING
LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO)
LUMBANTORUAN (SIHOMBING)
LUMBANTUNGKUP
M.
MAHA
MAHABUNGA
MAHARAJA
MALAU
MALIAM
MANALU (TOGA SIMAMORA)
MANALU-RAMBE
MANALU (BOANG), tidak ada hubungan antara MANALU dengan BOANG MANALU, nama itu mirip hanya karena kebetulan. BOANG MANALU banyak berdomisili di SUAK BOANG dan SINGKIL.
MANIK
MANIHURUK bukan MANIK URUK, ini marga TAPUT
MANURUNG
MARBUN
MARBUN SEHUN
MARDOSI
MARPAUNG
MARTUMPU
MATANIARI
MATONDANG
MEKAH bukan MEHA, ini marga PAKPAK
MEKAMEKA
MISMIS
MUKUR
MUNGKUR
MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN
120. DABUNGKE bukan NABUNGKE, ini marga TAPUT
121. NADAPDAP
122. NADEAK
123. NAHAMPUN
124. NAHULAE
125. NAIBAHO
126. NAIBORHU
127. NAIMUNTE
128. NAIPOSPOS
129. NAINGGOLAN
130. NAPITU
131. NAPITUPULU
132. NASUTION
133. NASUTION BOROTAN bukan NASUTION BOTOTAN
134. NASUTION LANCAT bukan NASUTION LONCAT
135. NASUTION TANGGA HAMBENG bukan NASUTION TANGGA AMBENG
136. NASUTION SIMANGGINTIR
137. NASUTION MANGGIS
138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU
140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P.
141. PADANG PARGETTENGGETTENG/SENGKUT(SITUMORANG), tidak ada hubungan dengan SITUMORANG(TOBA).
142. PADANG (BATANGHARI) , tidak ada hubungan dengan TOBA.
143. PANGARAJI (TAMBUNAN)
144. PAKPAHAN
145. PAMAN
146. PANDEURUK
147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE
148. PANDIANGAN SITANGGUBANG
149. PANDIANGAN SITURANGKE
150. PANJAITAN
151. PANE
152. PANGARIBUAN
153. PANGGABEAN
154. PANGKAR
155. PAPAGA
156. PARAPAT, marga ini berasal dari PARAPAT SIMALUNGUN keturunan marga SINAGA
157. PARDABUAN
158. PARDEDE
159. PARDOSI-DAIRI
160. PARDOSI (SIAGIAN)
161. PARHUSIP
162. PASARIBU
163. PASE
164. PASI
165. PINAYUNGAN
166. PINARIK
167. PINTUBATU
168. POHAN
169. PORTI
170. POSPOS
171. PULUNGAN
172. PURBA (TOGA SIMAMORA), marga PURBA SIMALUNGUN enggan dan tidak pernah mau mengakui bahwa PURBA SIMALUNGUN bagian dari PURBA TAPUT atau RAMBE ANGKOLA, tetapi PURBA TAPUT-lah bagian dari marga PURBA SIMALUNGUN. PURBA TAPUT merupakan PURBA pelarian dari SIMALUNGUN, yang melanglangbuana ke negeri seberang (HUMBANG) karena melakukan tindak kesalahan berbahaya yang menyebabkan ia diusir dari kampung halamannya, HUTA HASUSURAN atau dalam istilah TAPUT-nya BONA PASOGIT .
173. PURBA (RAMBE)
174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK
176. RAMBE-PURBA, sebagaimana dijelaskan di atas, jangan pernah mengkait-kaitkan PURBA SIMALUNGUN dengan marga RAMBE, MANALU, DEBATARAJA, SIMAMORA, karena sekalipun mereka merasa punya hubungan saudara (DONGAN TUBU), PURBA SIMALUNGUN takkan pernah berkenan.
177. RAMBE-MANALU
178. RAMBE-DEBATARAJA
179. RANGKUTI-DANO
180. RANGKUTI-PANE, tidak ada hubungan antara RANGKUTI dengan PANE, karena PANE adalah bagian dari SITORUS. Sementara RANGKUTI (Urang nan Ditakuti), leluhur mereka berasal dari ACEH, dan punya hubungan dengan marga PARAPAT yang datang dari SIMALUNGUN.
181. BANUREA tidak ada REA
182. RIMOBUNGA
183. RITONGA
184. RUMAHOMBAR
185. RUMAHORBO
186. RUMAPEA
187. RUMASINGAP
188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA
190. SAGALA-BANGUNREA
191. SAGALA-HUTABAGAS
192. SAGALA HUTAURAT
193. SAING
194. SAMBO
195. SAMOSIR
196. CAPAH bukan SAPA, ini marga PAKPAK
197. SARAGI (SAMOSIR), berasal dari SARAGIH SIMALUNGUN, yang datang ke TAPUT karena tersesat bersama dengan binatang kesayangannya HUTING PARBURU. ia masuk melalui LIANG DEAK terus menyusuri Danau Toba hingga akhirnya sampai ke TAPUT. Di TAPUT ia mendirikan HUTA TAMBA (kampung tambahan) dan mengawini boru TAPUT, kemudian ia beranak cucu di sana. Lalu kemudian ia kembali ke SIMALUNGUN, kampung leluhurnya, namun sebelum pergi, ia sempat berpesan kepada anak cucunya jikalau moyang mereka berasal dari SIMALUNGUN. Makanya klen marga itu seperti SITANGGANG, SIMARMATA, SIGALINGGING, SITIO, TURNIP, SIDABALOK, SIDAURUK, SIMANIHURUK, RUMAHORBO dan lain-lain yang merantau ke SIMALUNGUN untuk memenuhi wasiat leluhur mereka.
198. SARAGIH (SIMALUNGUN)
199. SARAN bukan SARAAN (SERAAN), ini marga PAKPAK
200. SARUKSUK
201. SARUMPAET
202. CEHUN bukan SEUN (SEHUN), ini marga PAKPAK
203. SIADARI
204. SIAGIAN (SIREGAR)
205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA)
206. SIAHAAN (NAINGGOLAN)
207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL)
208. SIAHAAN HINALANG
209. SIAHAAN BALIGE
210. SIAHAAN LUMBANGORAT
211. SIAHAAN TARABUNGA
212. SIAHAAN SIBUNTUON
213. SIALLAGAN
214. SIAMPAPAGA
215. SIANIPAR
216. SIANTURI
217. SIBANGEBENGE
218. SIBARANI
219. SIBARINGBING
220. SIBORO
221. SIBORUTOROP
222. SIBUEA
223. SIBURIAN
224. SIDABALOK
225. SIDABANG
226. SINABANG
227. SIDEBANG
228. SIDABARIBA
229. SINABARIBA
230. SIDABUNGKE
231. SIDABUTAR (SARAGI)
232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN)
233. SIDAHANPINTU bukan SIDAHAPINTU, ini merupakan sub-marga SINAGA SIMALUNGUN
234. SIADARI bukan SIDARI
235. SIDAURUK
236. SIJABAT
237. SIGALINGGING
238. SIGIRO
239. SIHALOHO, ketika merantau ke SIMALUNGUN banyak yang menggabungkan diri ke dalam marga SINAGA dan belakangan setelah berkumandangnya kemerdekaan RI, marga ini kembali menunjukkan jati diri aslinya. Meski demikian ia hanya memakai HALOHO, dan mengaku sebagai orang SIMALUNGUN. Demikian juga yang pergi ke PAKPAK beralih menjadi KALOKO dan ke KARO menjadi KELOKO dan bersembunyi ke dalam merga SIMBIRING.
240. SIHITE
241. SIHOMBING
242. SIHOTANG
243. SIKETANG
244. SIJABAT
245. SILABAN
246. SILAE
247. SILAEN
248. SILALAHI, ketika merantau ke SIMALUNGUN banyak yang menggabungkan diri ke dalam marga SINAGA, sebagian ada yang merubah marganya menjadi SIMANDALAHI dan sebagian yang lain tetap dengan SILALAHI. Belakangan setelah berkumandangnya kemerdekaan RI, marga ini kembali menunjukkan jati diri aslinya, namun ia enggan menyebut diri mereka orang TAPUT, tetapi tetap konsisten sebagai orang SIMALUNGUN. Demikian yang pergi ke KARO berubah menjadi SINULAKI dan bersembunyi ke dalam merga SIMBIRING.
249. SILALI
250. SILEANG
251. SILITONGA
252. SILO
253. SIMAIBANG
254. SIMALANGO
255. SIMAMORA
256. SIMANDALAHI
257. SIMANJORANG
258. SIMANJUNTAK
259. SIMANGUNSONG
260. SIMANIHURUK
261. SIMANULLANG
262. SIMANUNGKALIT
263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR)
264. SIMAREMARE
265. SIMARGOLANG
266. SIMARMATA
267. SIMARSOIT
268. SIMATUPANG
269. SIMBIRING MEKAH bukan SIMBIRING-MEHA
270. SEMBIRING-MELIALA
271. SIMBOLON
272. SINABANG
273. SINABARIBA
274. SINAGA
275. SIBAGARIANG
276. SINAMBELA-HUMBANG
277. SINAMBELA DAIRI
278. SINAMO
279. SINGKAPAL
280. SINURAT
281. SIPAHUTAR
282. SIPAYUNG, berasal dari TOBA, namun kini sudah menjadi orang SIMALUNGUN. Dan yang pergi ke KARO beralih menjadi SINUPAYUNG dan bersembunyi ke dalam merga SIMBIRING.
283. SIPANGKAR
SIPANGPANG
SIPARDABUAN
SIRAIT
SIRANDOS
SIREGAR
SIRINGKIRON
SIRINGORINGO
SIRUMAPEA
SIRUMASONDI
SITANGGANG
SITANGGUBANG
SITARIHORAN
SITINDAON
SITINJAK
SITIO
SITOGATOROP
SITOHANG URUK
SITOHANG TONGATONGA
SITOHANG TORUAN
SITOMPUL
SITORANG (SITUMORANG)
SITORBANDOLOK
SITORUS
SITUMEANG
SITUMORANG-LUMBANPANDE
SITUMORANG-LUMBAN NAHOR
SITUMORANG-SUHUTNIHUTA
SITUMORANG-SIRINGORINGO
SITUMORANG-SITOGANG URUK
SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA
SITUMORANG SITOHANGTORUAN
SITUNGKIR
SITURANGKE
SOBU
SOLIA, di KARO COLIA seb-merga SIMBIRING dan SOLIA di SIMALUNGUN sebagai sub-marga DAMANIK. Marga ini konon berasal dari Kerajaan Chola di India Selatan. Masuk ke Sumatera ketika terjadinya penaklukan Kerajaan Chola kepada Kerajaan Sriwijaya.
SOLIN, di ALAS beralih menjadi SELIAN, dan keturunannya yang di KARO bermarga SEBAYANG. Leluhur marga ini adalah RAJA LAMBING yang berasal dari DAIRI, yang melanglang buana ke Karo dan ALAS karena terjadinya pertikaian keluarga.
SORGANIMUSU
SORMIN
SUHUTNIHUTA-SITUMORANG
SUHUTNIHUTA-SINAGA
SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN
SUMBA
SUNGE
SUNGGU
T.
TAMBA
TAMBAK, marga ini merupakan sub-marga dari PURBA SIMALUNGUN. Di Labuhan Batu marga ini juga ditemukan, dan mereka kemungkinan besar berasal dari SIMALUNGUN. Awal berkembangnya marga ini di sana ketika masih eksisnya Kerajaan PANAI milik marga PURBA TAMBAK. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian daerah TAPSEL, di sepanjang sungai Barumun dan Panai kala itu berperan sebagai pelabuhan dan arus perdagangan.
TAMBUNAN BARUARA
TAMBUNAN LUMBANGAOL
TAMBUNAN LUMPANPEA
TAMBUNAN PAGARAJI
TAMBUNAN SUNGE
TAMPUBOLON
TAMPUBOLON BARIMBING
TAMPUBOLON SILAEN
TAKKAR
TANJUNG, marga ini terdapat di MINANGKABAU, SIBOLGA, TAPSEL. Demikian juga di SIMALUNGUN, namun sebagai sub-marga PURBA. Di Karo, sebagai sub-marga PERANGINANGIN
TARIHORAN
TENDANG
TINAMBUNAN
TINENDUNG
TOGATOROP
TOMOK, sub marga DAMANIK SIMALUNGUN.
TORBANDOLOK
TUMANGGOR, marga ini adalah marga asli PAKPAK, namun banyak berdomisili di luar tanah PAKPAK. Sementara mereka yang tinggal di tanah PAKPAK memakai TUMANGGER.
TURNIP
TURUTEN bukan TURUTAN, ini adalah marga PAKPAK.
Tj ( C).
CAPAH bukan TJAPA (CAPA)
SAMBO bukan TJAMBO (CAMBO)
TJIBERO (CIBERO)
U.
UJUNG-RIMOBUNGA
UJUNG-SARIBU
KAROKARO
KAROKARO BARUS
KAROKARO BUKIT
357. KAROKARO GURUSINGA
358. KAROKARO JUNG
359. KAROKARO KALOKO
360. KAROKARO KACARIBU
361. KAR0KARO KESOGIHAN
362. KAROKARO KETAREN
363. KAROKARO KODADIRI
364. KAROKARO PURBA
365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya)
366. KAROKARO SEKALI
367. KAROKARO SIKEMIT
368. KAROKARO SINUBULAN bukan SINABULAN
369. KAROKARO SINUHAJI bukan SINUAJI
370. KAROKARO SINUKABAN
371. KAROKARO SINULINGGA
372. KAROKARO SAMURA bukan SIMURA
373. KAROKARO SITEPU
374. KAROKARO SURBAKTI
TARIGAN
375. TARIGAN BONDONG bukan BANDANG
376. TARIGAN GANAGANA
377. TARIGAN GERNENG
378. TARIGAN GIRSANG
379. TARIGAN JAMPANG
380. TARIGAN PURBA
381. TARIGAN SILANGIT
382. TARIGAN TAMBAK
383. TARIGAN TAMBUN
384. TARIGAN TEGUR bukan TAGUR
385. TARIGAN TUA
386. TARIGAN SIBERO bukan CIBERO
PERANGINANGIN
387. PERANGINANGIN-BENJERANG
388. PERANGINANGIN BANGUN
389. PERANGINANGIN KABAN bukan KABAK
390. PERANGINANGIN KACINAMBUN bukan KACINABU
391. PERANGINANGIN KELIAT
392. PERANGINANGIN LAKSA
393. PERANGINANGIN MANO
394. PERANGINANGIN NAMOHAJI
395. PERANGINANGIN PENGGARUN bukan PANGGARUN
396. PERANGINANGIN PENCAWAN
397. PERANGINANGIN PARBESI
398. PERANGINANGIN PERASIH
399. PERANGINANGIN PINEM
400. PERANGINANGIN SEBAYANG bukan SINUBAYANG
401. PERANGINANGIN SINGARIMBUN bukan SINGARIMBUM, marga ini berasal dari daerah SIMARIMBUN di SIMALUNGUN.
402. PERANGINANGIN SINURAT
403. PERANGINANGIN SUKATENDEL bukan SUKATENDE
404. PERANGINANGIN ULUNJANDI bukan ULUJANDI
405. PERANGINANGIN UWIR
GINTING
406. GINTING BAKO bukan BAHO
407. GINTING BERAS
408. GINTING GURUPATIH
409. GINTING JADIBATA
410. GINTING JAWAK
411. GINTING MANIK
412. GINTING MUNTE
413. GINTING PASE
414. GINTING SIGARAMATA
415. GINTING SARAGIH
416. GINTING SINUSINGA bukan SINUSINGAN
417. GINTING SUGIHEN
418. GINTING SINISUKA bukan SINUSUKA
419. GINTING TUMANGGER
420. GINTING CAPAH bukan CAPA
SEMBIRING
421. SEMBIRING-BERAHMANA
422. SEMBIRING BUNUHAJI
423. SEMBIRING BUSUK (PU)
424. SEMBIRING DEPARI
425. SEMBIRING GALUK
426. SEMBIRING GURU KINAYAN bukan GURU KINAYA
427. SEMBIRING KELING
428. SEMBIRING KALOKO
429. SEMBIRING KEMBAREN
430. SEMBIRING MELIALA
431. SEMBIRING MUHAM
432. SEMBIRING PANDEBAYANG
433. SEMBIRING PANDIA
434. SEMBIRING PELAWI
435. SEMBIRING SINULAKI
436. SEMBIRING SINUPAYUNG
437. SEMBIRING SINUKAPAR
438. SEMBIRING TEKANG bukan TAKANG
439. SEMBIRING COLIA bukan SOLIA
MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK
SINAGA
440. SINAGA NADIHOYONG HATARAN bukan NADIHAYANGHOTORAN
441. SINAGA NADIHOYONG BODAT bukan NADIHAYANGBODAT
442. SINAGA SIDABARIBA
443. SINAGA SIDAGURGUR
444. SINAGA SIDAHANPINTU bukan SIDAHAPINTU
445. SINAGA SIDASUHUT bukan SIDAHASUHUT
446. SINAGA SIALLAGAN
447. SINAGA PORTI
DAMANIK
Terbagi ke dalam rumpun TAPUT (pendatang) dan rumpun SIMALUNGUN ASLI (Suhut).
A. Rumpun TAPUT
1. DAMANIK AMBARITA
2. DAMANIK LIMBONG
3. DAMANIK GURNING
4. DAMANIK MALAU berasal dari SIMALUNGUN yang semula bermarga MALAYU, namun akibat pergi ke TAPUT ejaannya berubah, karena disesuaikan dengan logat mereka, yang cenderung kelabakan bila mengungkapkan kata YU.
5. DAMANIK TOMOK
6. DAMANIK SAGALA
B. Rumpun SIMALUNGUN asli
1. DAMANIK BAYU
2. DAMANIK SARASAN
3. DAMANIK USANG
4. DAMANIK MALAYU
5. DAMANIK SOLIA (SOLA)
6. DAMANIK NAGUR
7. DAMANIK BARIBA
8. DAMANIK RAMPOGOS
9. DAMANIK BAROTBOT
10. DAMANIK HAJANGAN
11. DAMANIK SIMARINGGA
12. DAMANIK RIH
SARAGIH bukan SARAGI
A. Rumpun SIMALUNGUN asli
453. SARAGIH-DAJAWAK
454. SARAGIH DAMUNTE
455. SARAGIH DASALAK
456. SARAGIH GARINGGING
458. SARAGIH SUMBAYAK
B. Rumpun TAPUT
457. SARAGIH SIMARMATA
458. SARAGIH SITANGGANG
459. SARAGIH SUMBAYAK
460. SARAGIH TURNIP
PURBA
PURBA BAWANG saja tidak ada, yang ada PURBA TAMBAK BAWANG, TAMBAK LOMBANG, dan TUALANG.
PURBA DAGAMBIR
PURBA DASUHA
PURBA GIRSANG
PURBA PAKPAK
PUBA SIIDADOLOK
PURBA TAMBAK
HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK
BARAT ( SIAN HUTABARAT)
BAUMI (MARINGAN DI MANDAILING)
BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL)
GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL), marga ini juga terdapat di MINANGKABAU.
KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL)
MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN
MARDIA (MARINGANAN DI MANDAILING)
MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU
NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si BAROAR bukan Badoar
[sangti]. NASUTION tidak ada hubungannya dengan SIAHAAN. Itu hanya rekayasa saja, agar terkesan bahwa TAPUT-lah suku BATAK yang sangat….tt…tertua dari sekian suku BATAK yang ada seperti SIMALUNGUN, MANDAILING, ANGKOLA, PAKPAK, KARO, ALAS, GAYO, KELUET. Padahal sebenarnya, sebaliknya bias saja TAPUT suku BATAK yang ter…..rr…muda. Bila TAPUT obyektif dan tidak egois, suku BATAK hingga kini belum dapat ditentukan siapa yang muda dan siapa yang tua. Kembali ke marga NASUTION, menurut keyakinan orang MANDAILING bermarga NASUTION sebagai siempunya marga, leluhur mereka berasal dari Iskandar Zulkarnain di BUKIT SEGUNTANG. BAROAR adalah putra hasil hubungan terselubung antara iboto RAJA PULUNGAN generasi ke-III dengan seorang pria yang dating dari MINANGKABAU bernama BATARA PINAYUNGAN putra dari SANGSI PURBA BIN ISKANDAR ZULKARNAIN.
PELIS bukan PALIS ( MARINGANAN DI SINGKILDOLOK)
RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL)
RANGKUTI ( didok deba nasida, keturunanni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing), adong versi na deba mandok sian Acce do ibana, na laho tu MANDAILING dengan mangedarai GAJA, gabe halak sibiaran ma nasida dung sahat tu MANDAILING, umbaen I didok halak setempat ma nasida URANG NAN DITAKUTI, sian i ma markembang marga RANGKUTI nuaeng.
Dikutip dari berbagai sumber