Showing posts with label Tumbuhan Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Tumbuhan Nusantara. Show all posts

Bunga Melati


Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Indonesia, salah satu jenis melati dijadikan sebagai simbol nasional yaitu melati putih (Jasminum sambac) karena bunganya dikaitkan dengan berbagai tradisi dar banyak suku di negara ini. Jenis lain yang juga populer adalah gambir (J. officinale). Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Nama-nama daerah untuk melati adalah Menuh (Bali), Meulu cut atau Meulu Cina (Aceh), Menyuru (Banda), Melur (Gayo dan Batak Karo), Manduru (Menado), Mundu (Bima dan Sumbawa) dan Manyora (Timor), serta Malete (Madura).

Di Italia, melati casablanca (Jasminum officinalle), yang disebut Spanish Jasmine ditanam tahun 1692 untuk dijadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris dibudidayakan melati putih (J. sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo de Medici. Dalam tahun 1919 ditemukan melati J. parkeri di kawasan India Barat Laut, Kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923.

Jenis-jenis melati

Di antara 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botani baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan dan terdapat 8 jenis melati yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Sebagian besar jenis melati tumbuh liar di hutan-hutan karena belum terungkap potensi ekonomi dan sosialnya. Tanaman melati termasuk suku melati-melatian atau Oleaceae.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kelebihan ASI, Sakit mata, Demam, Sakit Kepala, Sesak Napas.

Pemanfaatan :
1. Menghentikan ASI yang keluar berlebihan
Bahan: 1 genggam daun melati
Cara membuat: bahan tersebut dipipis halus
Cara menggunakan: ditempel di seputar buah dada, setiap pagi
sebelum mandi.

2. Sakit mata (mata merah atau belek)
Bahan: 1 genggam daun melati
Cara membuat: bahan tersebut dipipis halus
Cara menggunakan: ditempel pada dahi, apabila sudah kering
diganti baru, ulangi sampai sembuh.

3. Bengkak akibat serangan daun lebah
Bahan: 1 genggam bunga melati
Cara membuat: bahan tersebut diremas-remas sampai halus
Cara menggunakan: ditempel pada bagian yang disengat lebah.

4. Demam dan sakit kepala
Bahan: 1 genggam daun melati, 10 bunga melati
Cara membuat: bahan tersebut diremas-remas dengan tangan,
kemudian direndam dengan air dalam rantang
Cara menggunakan: air rendaman ini digunakan untuk kompres dahi

5. Sesak napas
Bahan: 20 lembar daun melati dan garam secukupnya
Cara membuat: bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai
mendidih hingga tinggal 2 gelas dan disaring.
Cara menggunakan: ditempel di seputar buah dada, setiap pagi
sebelum mandi.

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Melati mengandung senyawa-senyawa unsur kimia yang besar manfaatnya untuk pengobatan. Kandungan kimia yang ada tersebut antara lain indol, benzyl, livalylacetaat.

Sumber: http://www.iptek.net.id

Khasiat Lidah Buaya (Aloevera)


Selain menyuburkan rambut, lidah buaya juga dikenal berkhasiat untuk mengobati sejumlah penyakit. Di antaranya diabetes melitus dan serangan jantung.

Lidah buaya atau Aloevera adalah salah satu tanaman obat yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Tanaman ini sudah digunakan bangsa Samaria sekitar tahun 1875 SM.

Bangsa Mesir kuno sudah mengenal khasiat lidah buaya sebagai obat sekitar tahun 1500 SM. Berkat khasiatnya, masyarakat Mesir kuno menyebutnya sebagai tanaman keabadian.

Seorang peracik obat-obatan tradisional berkebangsaan Yunani bernama Dioscordes, menyebutkan bahwa lidah buaya dapat mengobati berbagai penyakit. Misalnya bisul, kulit memar, pecah-pecah, lecet, rambut rontok, wasir, dan radang tenggorokan.

Dalam laporannya, Fujio L. Panggabean, seorang peneliti dan pemerhati tanaman obat, mengatakan bahwa keampuhan lidah buaya tak lain karena tanaman ini memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh manusia. Hasil penelitian lain terhadap lidah buaya menunjukkan bahwa karbohidrat merupakan komponen terbanyak setelah air, yang menyumbangkan sejumlah kalori sebagai sumber tenaga.

Makanan Kesehatan

Menurut seorang pengamat makanan kesehatan (suplemen), Dr. Freddy Wilmana, MFPM, Sp.FK, dari sekitar 200 jenis tanaman lidah buaya, yang baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera Barbadensis miller. Lidah buaya jenis ini mengandung 72 zat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Di antara ke-72 zat yang dibutuhkan tubuh itu terdapat 18 macam asam amino, karbohidrat, lemak, air, vitamin, mineral, enzim, hormon, dan zat golongan obat. Antara lain antibiotik, antiseptik, antibakteri, antikanker, antivirus, antijamur, antiinfeksi, antiperadangan, antipembengkakan, antiparkinson, antiaterosklerosis, serta antivirus yang resisten terhadap antibiotik.

Mengingat kandungan yang lengkap itu, lidah buaya menurut Dr. Freddy bukan cuma berguna menjaga kesehatan, tapi juga mengatasi berbagai penyakit. “Misalnya lidah buaya juga mampu menurunkan gula darah pada diabetesi yang tidak tergantung insulin. Dalam waktu sepuluh hari gula darah bisa normal,” katanya.

Mengandung Antioksidan
Menurut Dr. Freddy, beberapa unsur mineral yang terkandung dalam lidah buaya juga ada yang berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami. Misalnya vitamin C, vitamin E, dan zinc.

“Bahkan hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalam Aloevera barbadensis miller terdapat beberapa zat yang bisa berfungsi sebagai antioksidan,” ujarnya. Antioksidan itu berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan beberapa penyakit degeneratif.

Lidah buaya bersifat merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit. Dalam lendir lidah buaya terkandung zat lignin yang mampu menembus dan meresap ke dalam kulit. Lendir ini akan menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit. Hasilnya, kulit tidak cepat kering dan terlihat awet muda.

Selain wasir, lidah buaya bisa mengatasi bengkak sendi pada lutut, batuk, dan luka. Lidah buaya juga membantu mengatasi sembelit atau sulit buang air besar karena lendirnya bersifat pahit dan mengandung laktasit, sehingga merupakan pencahar yang baik.

Sejauh ini, menurut Dr. Freddy, penelitian belum menemukan efek samping penggunaan lidah buaya. Jika ada masalah, itu hanya berupa alergi pada mereka yang belum pernah mengonsumsi lidah buaya. “Tapi, sejauh ini dari pasien saya yang mengonsumsi suplemen berbahan dasar lidah buaya, reaksi yang muncul adalah karena daya kerja obat yang melawan penyakit,” katanya.

Namun, yang perlu diingat, menurut Dr. Freddy, sifat tanaman lidah buaya hampir mirip dengan buah apel yang bila habis digigit langsung berwarna cokelat. Hal itu bisa menjadi tanda lidah buaya telah teroksidasi, sehingga beberapa zat yang dikandungnya rusak.

“Memang tidak semua unsurnya rusak, tapi siapa yang mau hanya mendapat ampas? Karena itu, sebaiknya segera konsumsi ramuan lidah buaya, baik yang diracik atau yang sudah diolah, agar lebih terasa manfaatnya,” lanjutnya.

Ramuan Lidah Buaya

Radang tenggorokan
Cara Meramu: 1 daun lidah buaya dicuci dan dikupas. Isinya dipotong-potong atau diblender. Tambahkan 1 sendok makan madu murni. Minum 3 kali sehari.

Ambeien
Cara Meramu: Setengah (1/2) batang daun lidah buaya dibuang durinya, dicuci, lalu diparut. Beri setengah (1/2) gelas air panas, kemudian peras. Tambahkan 2 sendok makan madu. Dalam keadaan hangat, minum 3 kali sehari.

Sembelit
Cara Meramu: Setengah (1/2) batang daun lidah buaya dicuci dan dikupas. Isinya dipotong kecil-kecil. Seduh dengan setengah (1/2) gelas air. Beri 1 sendok makan madu. Hangat-hangat dimakan 2 kali sehari.

Diabetes melitus
Cara Meramu: 2 batang daun lidah buaya, dicuci, dibuang durinya, dipotong-potong. Rebus dengan 3 gelas air, lalu saring. Minum 3 kali sehari sesudah makan, masing-masing setengah gelas.

Penurun kadar gula darah
Cara Meramu: 1 pelepah lidah buaya ukuran besar (kira-kira seukuran telapak tangan) dibersihkan dengan mengupas kulit dan durinya. Rendam sekitar 30 menit dalam air garam. Remas sebentar lalu bilas di bawah air yang mengalir (air kran). Rebus dengan 3 gelas air hingga mendidih. Dinginkan. Minum sebanyak 1/2 gelas, 2 sampai 3 kali sehari.

Penyubur rambut
Cara Meramu: 2 pelepah lidah buaya dicuci lalu kupas. Isinya digosokkan pada kulit kepala yang telah dikeramas pada sore hari. Bungkus dengan kain. Keesokan harinya
rambut dibilas. Lakukan setiap hari selama 3 bulan.
Berikut ini proses atau cara bagaimana membudidayakan lidah buaya sehingga selain bisa di pakai untuk kesehatan juga bisa untuk prospek bisnis
download artikelnya disini

Petai Cina Bantu Tingkatkan Gairah Seksual

Kondisi badan yang sering merasa kelelahan serta mudah terkena penyakit merupakan salah satu keluhan yang banyak dialami warga perkotaan. Rutinitas pekerjaan, serta pola hidup tidak sehat membuat kondisi tubuh sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Akibatnya hal ini juga akan mempengaruhi gairah seksualitas seseorang.

Berbagai cara saat ini dapat dengan mudah ditemui untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya dalah dengan menggunakan metode pengobatan alternatif dan tanaman yang memiliki khasiat untuk kesehatan, salah satunya adalah petai china. Selain biasa digunakan untuk masakan, berdasarkan hasil penelitian, petai china ternyata juga dapat membantu menyembuhkan penyakit diabetes melitus, cacingan, hingga meningkatkan gairah seks.

Tumbuhan yang banyak ditemui di dataran rendah ini memiliki komposisi kandungan ilmiah diantaranya adalah kalori 148 kalori, protein 10,6 gram, lemak 0,5 gram, hidrat arang 26,2 gram, kalsium 155 miligram, fosfor 59 gram, zat besi 2,2 gram, vitamin A 416 SI, vVitamin B1 0,23 miligram dan vitamin C 20 miligram, untuk setiap 100 gram biji petai china. Untuk membantu meningkatkan gairah seks, cara pengolahannya adalah sebagai berikut:

1 sendok petai cina

1 sendok bubuk merica hitam

2 butir kuning telur ayam kampung mentah

1 sendok madu.

Cara penggunaanya adalah cukup dengan mencampur bahan-bahan tersebut, lalu diminum sekaligus.

Sehat Dengan Bahan Alami


Sepertinya, cuaca terasa tidak menentu saat ini, ada hujan ada juga panas, tapi mungkin juga ini adalah masa transisi atau pergantian musim. Biasanya, pada pergantian musim seperti ini sangat rawan penyakit, misalnya saja penyakit flu yang paling sering diderita oleh banyak orang, termasuk saya. Anda tidak mau kan sakit karena pergantian musim? Sepertinya daya tahan tubuh kita lemah sekali kalau mudah terkena flu.

Ada banyak cara atau resep untuk menjaga stamina tubuh agar tetap bugar walau pun cuaca tidak menentu seperti sekarang ini. Sebagai contoh, banyak sekali multivitamin-multivitamin untuk daya tahan tubuh dipasaran, dengan berbagai merek dan iklan yang menjanjikan tentunya. Tapi apakah itu aman? ya mungkin aman walaupun kita tidak pernah membuktikannya secara langsung.

Salah satu resep bugar yang aman yang tak kalah khasiatnya yaitu dengan bahan tradisional, dan ini jelas tanpa efek samping. untuk itu, setelah mencari-cari, saya menemukan dari beberapa sumber bahwa ada 6 bahan tradisional yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan menghadapi pergantian musim. Berikut diantaranya:

1. Zat Besi
Zat besi merupakan mineral esensial yang dibutuhkan lebih dari 300 enzim yang ada di dalam tubuh. Zat besi dapat Anda temukan pada makanan seperti daging, hati, seafood dan telur. Saat ini juga sudah tersedia dalam bentuk pil dan sirup. Kenapa zat besi bermanfaat? Zat ini memiliki efek menguatkan sistem imun tubuh, mood, kehidupan seks dan kesehatan yang berhubungan dengan pernafasan. Saat Anda mendapatkan gejala-gejala flu awal, tambahkan asupan zat besi dalam diet Anda. Sebagai bonusnya, zat besi ini dapat sedikit membantu menurunkan gejala flu.

2. Bawang Putih
Allicin yang terkandung didalam bawang putih, adalah zat yang paling ampuh melawan flu. Kandungan allicin dalam bawang putih dapat mengurangi resiko terjangkit flu dan menyembuhkan sakit flu dengan cepat. Tapi ada efek samping bagi penderita gula darah dan wanita hamil. Menurut tes bawang putih memang mampu membunuh virus influenza. Tambahkan bawang putih pada sop ayam, yang juga dipercaya meredakan gejala flu, lalu nikmati saat masih panas.
3. Bawang Merah
Kandungan dalam bawang merah tak jauh beda dengan bawang putih, yang mengandung kimia antiviral. Rendam potongan bawang merah mentah di madu, biarkan selama semalaman. Gunakan campuran ini seperti sirup obat batuk. Selain itu, Anda juga bisa menambahkan banyak bawang merah dalam masakan saat sedang terkena flu.

4. Madu
Madu populer sebagai obat mujarab di beberapa budaya, madu juga menunjukkan dapat membantu meringankan iritasi pada tenggorokan dan diyakini mengandung antioksidan dan anti bakterial. Selain itu, madu juga terbukti meringankan batuk dan membantu tidur pulas pada anak-anak berusia satu tahun ke atas.

5. Ginseng
Siapa yang tak kenal suplemen herbal yang paling populer ini?, Banyak manfaat dari ginseng ini mulai dari memperbaiki ingatan, memperbaiki konsentrasi, kelelahan, masalah yang berkaitan dengan penuaan, depresi ringan dan bahkan untuk ibu setelah melahirkan. Kandungan dalam ginseng meningkatkan sistem imun tubuh, untuk itu tak salah jika ginseng disebut berkhasiat sebagai obat flu.

6. Jahe
Jahe dipercaya sejak dulu kala sebagai obat tradisional China dalam memerangi gejala flu. Dalam pengobatan India, ayurveda juga dipercaya hal yang sama. Jahe panas ditambah jeruk nipis dan madu bisa dijadikan minuman di saat hujan. Tapi bagi yang baru menjalani operasi, sebaiknya hindari minum jahe selama dua minggu.

Nah, itu dia beberapa bahan alami yang mungkin sudah banyak dilupakan orang karena tersedianya suplemen modern dengan bahan kimia dipasaran yang dapat dengan mudah kita dapatkan. Semoga saja ini bisa bermanfaat dan kita tetap bisa menjaga kelestarian resep-resep alami yang bermanfaat ini.

BUAH LENGKENG


Untuk Vitalitas dan Bau Badan
Buah lengkeng ternyata banyak manfaatnya bagi kesehatan. Tak hanya daging buah, kulit dan bijinya pun berguna. Berikut ini beberapa resep yang dapat dicoba yang dihimpun dari berbagai sumber. Buah lengkeng dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai ong ya guo atau long yan, yang berarti mata naga. Pohonnya bisa mencapai ketinggian 10 meter atau lebih.
Buahnya berbentuk bola dengan diameter 12-20 mm. Kulit luar buah bernama Latin Euphoria longana ini berwarna cokelat kekuningan dan kasar. Daging buahnya agak bening dan mengandung banyak air, sangat cocok untuk dijus. Di tengah buah ini terdapat biji berwarna hitam kecokelatan. Rasa buahnya manis, memiliki sifat hangat, tidak mengandung racun. Buah ini dapat memperkuat limpa, memperkaya darah, meningkatkan kekuatan fisik, dan mengendurkan saraf.

Rasa kulit luarnya kecut agak manis, dengan sifat hangat astringen. Zat tersebut dapat menyebabkan pengerutan jaringan sehingga dapat mengurangi sekresi, lebih sering dipakai sebagai obat luar untuk merawat kulit. Biji kelengkeng berkhasiat membantu menghentikan pendarahan, mengatur arus energi yang keluar dan masuk pada organ vital manusia, serta menghilangkan rasa nyeri. Lengkeng juga mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, vitamin A, B, dan banyak lagi. Batu bijinya mengandung zat yang berguna untuk pigmen dan asam amino.
Biji lengkeng bisa dimanfaatkan untuk sampo, seperti halnya lerak. Manfaat ini diperoleh berkat kandungan saponinnya, yakni zat yang berasal dari tumbuhan yang larut dalam air dengan membentuk larutan mirip sabun.

Mengandung Alkohol
Kadar alkohol yang tergolong tinggi pada buah lengkeng menimbulkan anggapan bahwa orang bisa mabuk kalau kebanyakan mengonsumsinya. Mengenai hal ini Dr. Handrawan Naedesul mengatakan bahwa setiap buah memang diindikasikan memiliki kandungan alkohol. Tidak menyebut langsung buah lengkeng, redaktur ahli Tabloid SENIOR ini malah menyatakan beberapa buah lain yang juga memiliki kadar alkohol tinggi.

"Contoh yang jelas adalah nangka dan durian. Kadar alkohol buah tersebut di bawah lima persen, tapi bisa memabukkan bila kita mengonsumsinya berlebihan," kata dokter yang juga gemar menulis ini. Bahkan Dr. Handrawan mengungkapkan bahwa sebenarnya beberapa bahan makanan yang memiliki kadar alkohol tinggi ternyata baik untuk kesehatan, misalnya tape yang mengandung alkohol karena proses peragian. Tape menurutnya sangat baik dikonsumsi karena bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit dan peredaran darah.

"Sebut saja bir. Orang-orang lanjut usia disarankan minum bir seminggu tiga kali karena bir bermanfaat merangsang jantung bekerja memompakan darah ke seluruh tubuh. Tidak usah banyak-banyak, cukup satu kaleng saja," ujarnya lagi. Hampir sama dengan Dr. Handrawan, Prof. Made Astawan, ahli gizi dari IPB, juga mengatakan bahwa setiap buah dan sayuran mengandung ethanol (salah satu unsur alkohol). Unsur ini akan semakin dominan bila buah dan sayur mengalami pembusukan (fermentasi).

Karena itu, Dr. Handrawan maupun Prof. Made menyarankan agar konsumsi buah-buahan yang diindikasikan memiliki kadar alkohol tersebut dalam batas yang wajar saja sehingga tidak memabukkan.

manfaat timun


Mengobati Sariawan, Darah Tinggi, dan Kulit Keriput

Dalam sebuah dongeng, timun dikisahkan membuahkan harapan bagi pasangan petani untuk memiliki
anak. Nyatanya, timun yang sering kita jumpai dalam menu makan sehari-hari itu memang benar-benar
bermanfaat bagi kesehatan.

Pernah mendengar dongeng Timun Emas? Seorang anak perempuan ayu, anak angkat dari pasangan petani
timun? Konon putri ayu itu terlahir dari sebuah timun yang memancarkan cahaya keemasan. Maka
diberilah putri ayu itu nama: Timun Emas, yang berparas cantik dan berhati emas. Dan ketika anak
kesayangan tersebut hendak dimakan oleh Buto Ijo, yang sudah lama mengincarnya, justru perawan ayu itu
yang berhasil membinasakan raksasa jahat itu.

Begitulah dongeng masa kecil yang sering diceritakan oleh orangtua kita. Buah yang mudah didapat
dan murah ini ternyata mampu menurunkan tekanan darah tinggi, sariawan (seriawan), memperlancar air
seni, dan menghilangkan keriput di kulit. Sayangnya, selain diketahui mengandung vitamin A, B, C,
E, serta beberapa zat lain, buah ini kurang banyak mendapat perhatian sebagai bahan penelitian.

Vitamin E
Timun atau mentimun adalah tanaman merambat yang mempunyai sulur dahan berbentuk spiral. Biasanya
ditanam di sawah dan di ladang-ladang sebagai tanaman untuk sayur ataupun rujak.

Daunnya bertangkai panjang, bentuknya lebar bertaju dengan pangkal berbentuk jantung, ujung
runcing, tepi bergerigi. Batangnya berbulu halus-halus. Bunganya berwarna kuning. Buahnya berbentuk
bulat panjang, tumbuh bergantung, berwarna hijau keputihan sepanjang 10-20 cm, berbiji banyak dan
mengandung air. Timun ada beberapa jenis, antara lain watang, turus, suri, dan krai. Buah dari
tumbuhan yang bernama latin Cucumis sativus ini dipercaya mengandung zat-zat saponin (mengeluarkan
lendir), protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin A, B1, dan C. Biji buah mentimun
mengandung banyak vitamin E untuk menghambat penuaan dan menghilangkan keriput.

Timun mentah bersifat menurunkan panas dalam, meningkatkan stamina, dan lain-lain. Selain itu,
timun juga mengandung flavonoid dan polifenol sebagai antiradang serta mengandung asam malonat yang
berfungsi menekan gula agar tidak berubah menjadi lemak, yang baik untuk mengurangi berat badan.
Kandungan seratnya yang tinggi berguna untuk melancarkan buang air besar, menurunkan kolesterol, dan
menetralkan racun. Mentimun juga mengandung kukurbitasin C, yang berkhasiat untuk meningkatkan
kekebalan tubuh dan mencegah penyakit hepatitis.

Patma raksasa (Rafflesia arnoldii)


Patma raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.

Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma. Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai "tanaman" adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Presentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. Satu tempat yang paling bagus dan mudah untuk menemukan bunga rafflesia arnoldii ini adalah di hutan sepanjang jalan Bengkulu-Curup setelah Kepahyang. Di Bengkulu sendiri, bunga rafflesia telah dijadikan sebagai motif utama batik besurek (batik khas Bengkulu) sejak lama.

Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat bunga sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.

Rafflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali. Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.

Sedikit informasi, selama 200an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.

Daun Dewa


Daun Dewa (Gynura divaricata) adalah daun yang bisa digunakan untuk penyakit kulit seperti flek hitam pada wajah. cara penggunaannya sangat sederhana yaitu dengan mengambil daunnya yang mempunyai getah lalu getahnya dioleskan pada flek hitam tersebut. Masih banyak manfaat bagi daun dewa tersebut. Seperti mengobati kencing manis, diabetes, dan penyakit dalam yaitu dengan cara meminum air rebusan daun tersebut yang sudah dikeringkan.

Menurut penelitian dari Fakultas Farmasi UGM dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), secara laboratoris ekstrak etanol daun dewa mampu menghambat pertumbuhan tumor paru pada mencit (tikus putih kecil). Ekstrak ini juga mampu menghambat pertumbuhan sel kanker.
Daun dewa tergolong tumbuhan semak yang subur pada ketinggian 0-1.000 meter di atas permukaan laut. Tinggi tumbuhan ini bisa mencapai 50 cm. Daunnya tunggal bertangkai pendek berbentuk bundar telur berujung lancip. Kedua permukaan daunnya berambut dengan warna putih. Warna permukaan daun di bagian atas hijau tua, sedangkan di bawahnya berwarna hijau muda. Bunganya terletak di bagian ujung batang, berwarna kuning berbentuk bonggol.

Efek farmakologis daun dewa adalah antikoagulan (koagulan=zat yang mempermudah dan mempercepat pembekuan darah), mencairkan bekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan perdarahan, menghilangkan panas, dan membersihkan racun. Daun dewa mengandung zat saponin, minyak atsiri, flavonoid, dan tanin. Efek farmakologis didapatkan dari seluruh tanaman.

Dalam buku Kebun Tanaman Obat Karyasari disebutkan bahwa daun dewa juga bisa mengatasi kejang pada anak dan beberapa jenis pendarahan. Untuk mengatasi luka terpukul, tak datang haid, pendarahan pada wanita, pembengkakan payudara, batuk, dan muntah darah seluruh tanaman daun dewa ditumbuk, atau direbus, lalu airnya diminum. Bila anak-anak mengalami kejang beri minum air dari satu batang daun dewa.

Bagian daunnya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kutil dan tumor. Untuk kutil haluskan daun dan ditempelkan pada bagian yang sakit dan biarkan hingga keesokkan harinya. Untuk mengatasi tumor, silakan makan daun dewa sebagai lalap. Untuk kanker buatlah ramuan dari 30 gram daun dewa segar, 20 gram temu putih, 30 gram jombang yang direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, lalu disaring dan airnya diminum.

Bagian umbi bisa dimanfaatkan untuk pengobatan luka terpukul, masuk angin, digigit ular, dan menghilangkan bekuan darah, serta mengobati stroke. Untuk luka luar, haluskan umbi, lalu tempelkan pada bagian yang sakit. Sedangkan untuk pengobatan dalam, umbinya ditumbuk halus dan ditambah air. Air perasannya diminum setiap sore hari.

Salah satu manfaat yang diambil dari Daun Dewa yaitu tumbuhan tersebut bersifat anti coagulant atau mencairkan bekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, menghilangkan panas, membersihkan racun, anti karsinogen dan antimutagenitas, diuretik.

Buah Naga


Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari.

Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Oleh orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah. Oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah jadi mencolok sekali di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Thang loy orang Vietnam ini kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa Inggris sebagai dragon fruit (buah naga).

Nama buah naga diberikan pada buah-buah yang dapat dimakan dari tumbuhan:

* Hylocereus undatus, yang buahnya berwarna merah dengan daging buah putih
* Hylocereus polyrhizus, yang buahnya berwarna merah muda dengan daging buah merah dan
* Selenicereus megalanthus dengan kulit buah kuning dan daging buah putih
* Hylocereus costaricensis, buah naga daging super merah.

Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung. Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga. Batangnya berbentuk segitiga, durinya pendek sekali dan tidak mencolok, sampai mereka dianggap "kaktus tak berduri". Bunganya mekar mulai senja, kalau kuncup bunga sudah sepanjang 30 cm. Itulah saatnya kita mengundang para tetangga dan handai taulan pencinta bunga untuk menyaksikan mekarnya buah naga.Mahkota bunga bagian luar yang krem itu mekar pada pukul sembilan (kira-kira), lalu disusul mahkota bagian dalam yang putih bersih, meliputi sejumlah benangsari yang kuning. Bunga seperti corong itu akhirnya terbuka penuh pada tengah malam. Itulah sebabnya ia tersiar luas ke seluruh dunia sebagai night blooming cereus. Sambil mekar penuh ini, ia menyebar bau yang harum. Ternyata bau ini disebar ke seluruh penjuru angin malam, untuk menarik para kelelawar, agar sudi kiranya datang bertandang untuk menyerbuki bunga itu. Dalam gelap gulitanya hutan belantara malam, mata kelelawar memang kurang awas, tetapi hidungnya "tajam"

Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun, mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan.

Sirih Merah Dapat Menurunkan Glukosa dalam Darah

Sirih merah atau bahasa Latinnya Piper crocatum, kini hadir tidak hanya sebagai tanaman hias, tapi juga tanaman obat tradisional penderita kencing manis (diabetes mellitus – DM).

Masyarakat Sleman, Yogyakarta khususnya, telah memanfaatkan khasiat daun sirih merah ini turun temurun. Secara empiris, selain kencing manis, daun sirih merah sering dimanfaatkan sebagai obat alternatif ambeien, peradangan, kanker, asam urat, hipertensi (darah tinggi), hepatitis, kelelahan dan maag.

Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah yakni alkoloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Menurut Ivorra, M.D dalam buku “A Review of Natural Product and Plants as Potensial Antidiabetic,” senyawa aktif alkoloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah. Hara (1993) menyatakan senyawa tanin dan saponin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri dan virus).

Ciri khas tanaman tropis ini, berbatang bulat hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian atasnya meruncing. Permukaan daun mengkilap dan tidak merata. Seperti sirih hijau, tanaman sirih merah juga tumbuh merambat di pagar atau pohon. Daunnya berasa pahit getar, namun beraroma lebih wangi dibanding sirih hijau. Bila disobek, daun sirih merah akan berlendir.

Tanaman sirih merah menyukai tempat teduh, berhawa sejuk dan sinar matahari 60-75 persen. Tanaman sirih merah tumbuh subur dan bagus di daerah pegunungan. Bila tumbuh pada daerah panas, sinar matahari langsung, batangnya cepat mengering. Selain itu, warna merah daunnya akan pudar. Padahal kemungkinan khasiatnya terletak pada senyawa kimia yang terkandung dalam warna merah daunnya.

Aman dikonsumsi

Peneliti muda dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Mega Safithri dan Farah Fahma telah meneliti toksisitas ekstrak air daun merah dan kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus.

Pembuatan ekstrak daun sirih merah sangatlah mudah.

Sebanyak 200 gram daun sirih merah direbus bersama 1 liter air sampai volumenya tinggal 100 mililiter. Perbandingan berat daun sirih merah dengan volume ekstrak rebusan yang diminum adalah 200 gram : 100 mililiter atau 2 : 1.

Untuk mengetahui tingkat keamanan dan efek samping daun yang bersifat antiseptik ini, Mega melakukan uji toksisitas. Ekstrak dengan konsentrasi 0, 5, 10, 20 gram per kilogram bobot badan diberikan secara oral pada masing-masing enam ekor tikus Sparague dawley. Setelah tujuh hari pencekokan, bobot tubuh ke-24 tikus tersebut bertambah dan sehat wal-alfiat. Berarti, pemberian ekstrak hingga dosis 20 gram per kilogram berat badan aman dan tidak bersifat toksik (beracun).

Dosis tepat sebagai obat diabetes mellitus, bisa ditentukan melalui uji antihiperglikemik pada enam kelompok tikus. Masing-masing kelompok terdiri dari empat ekor tikus. Kelompok A terdiri tikus yang mendapat induksi NaCl 0,9 persen berat per volume dan cekok akuades. Kelompok B berisi tikus yang diinduksi aloksan dosis 150 miligram per kilogram berat badan dan cekok akuades.

Dalam percobaan, tikus disengaja agar menderita penyakit diabetes melllitus, dengan pemberian aloksan dosis 150 miligram per kilogram berat badan.

Kelompok C berisi tikus yang diinduksi aloksan dosis 150 miligram per kilogram berat badan dan cekok obat antidiabetes komersial Daonil 3,22 miligram per kilogram. Kelompok D, E, F berisi tikus yang diinduksi aloksan dosis 150 miligram per kilogram berat badan dan berturut-turut cekok ekstrak daun sirih merah 100 x dosis Daonil, 1.000 x dosis Daonil, dan 20 gram per kilogram berat badan.

Perlakuan tersebut berlangsung selama 10 hari. Hasilnya, kadar glukosa darah kelompok tikus E dan F menunjukkan tidak berbeda nyata atau sama dengan kelompok tikus normal. Ekstrak daun sirih merah dosis 20 gram per kilogram berat badan mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34, 3 persen. Lebih tinggi penurunnya dibanding pemberian obat anti diabetes militus komesial Daonil 3,22 miligram per kilogram yang hanya menurunkan 27 persen glukosa darah tikus.

Hasil penelitian ini bisa diaplikasikan pada manusia penderita diabetes. Dosisnya ialah berat badan penderita dikalikan dengan 20 gram per kilogram berat badan. Jika berat badan penderita dikalikan degan 20 miligram per kilogram berat badan. Jika berat badan penderita 50 kilogram, ia membutuhkan 1 kilogram daun sirih merah segar atau 500 ml ekstrak air rebusan. Ektrak ini bisa diminum dua kali sehari setiap pagi dan sore sebanyak 250 ml.

# Uji klinis pada penderita kencing manis belum pernah dilakukan #

Oleh: SmallCrab.Com

Wisata Kopi ala Java Mocha


Banyak orang doyan minum kopi, tapi belum tahu bagaimana proses pengolahan kopi dari perkebunan hingga menjadi kopi bubuk siap seduh. Bahkan, banyak orang (kota) belum pernah melihat tanaman kopi.

Inilah yang mendorong pengelola Java Mocha di Delta Raya Selatan 38 Waru, Sidoarjo, menggelar Java Coffee World Adventure. Peserta tur berasal dari Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya dibawa ke perkebunan kopi di Kaliwining, Kabupaten Jember.

"Kebetulan Java Mocha memang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi di Jember sana," ujar Sofie Kusminarsih, program director Java Mocha Indonesia, kepada saya.

Tur ke kebun kopi itu cukup mengesankan. Sebab, peserta tak hanya bereaksi di akhir pekan atau berkelana ke desa, tapi mendapat banyak pengetahuan baru tentang kopi. Apa saja tentang kopi.

"Sebelum ke perkebunan, peserta mendapat presentasi tentang kopi. Peserta diberi wawasan mulai dari jenis kopi, cara budidaya, perawatan, panen, hingga pengolahan pascapanen," tutur Sofie Kusminarsih.

Yang menarik, penjelasan tentang seluk-beluk kopi ini langsung diberikan oleh para ahli kopi di Pusat Penelitian Kopi Kaliwining. Sebagian di antaranya dosen senior Fakultas Pertanian Universitas Jember. Pakar-pakar ini tiap hari berurusan dengan budidaya dan pengolahan kopi.

Selepas presentasi, rombongan dari Sidoarjo diajak melihat perkebunan kopi dan pabrik pengolahan kopi milik Puslit Kaliwining.

"Habis jalan-jalan, kita diminta mencicipi kopi. Coffee cup testing ini yang paling berkesan bagi peserta tur," kata Sofie.

Cukup seru, karena banyak macam kopi yang disediakan Puslit Kaliwining. Mereka pun dipersilakan bertanya--apa saja asalkan masih tentang kopi--kepada para pakar kopi.

Menurut Sofie, tur ke perkebunan kopi Kaliwining akan menjadi agenda tetap Java Mocha. Sebab, sejak awal coffee house di kawasan Deltasari ini ingin agar warga Jawa Timur punya apresiasi terhadap kopi jawa. Bukan apa-apa. Kopi jawa yang diproduksi di berbagai perkebunan dan lahan rakyat tak kalah dengan kopi impor.

"Java Coffee itu punya tempat tersendiri di kalangan komunitas kopi internasional. Sudah selayaknya kalau kita bangga dengan tanaman yang dihasilkan di bumi Indonesia sendiri," ujar Sofie.

Michelia Bunga Jeumpa


Michelia adalah genus tanaman berbunga dari suku Magnoliaceae. Genus ini memiliki sekitar 50 spesies pohon selalu hijau, semak-semak, yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis di Asia Selatan dan Asia Tenggara serta Tiongkok selatan. Tanaman ini juga disebut Bunga Cempaka.
Suku Magnoliaceae masih termasuk tumbuhan purba, merupakan fosil yang hidup dan asal-usulnya dapat ditelusuri hingga 95 juta tahun yang lalu. Ciri khas tanaman ini adalah daun bunganya yang tidak terdiri dari petal dan sepal, melainkan terdiri dari tepal.

Daun dan bunga Michelia masih menyerupai daun dan bunga Magnolia. Walau bunga Michelia lebih tersebar di sepanjang batang tumbuhan, sedangkan bunga Magnolia hanya tumbuh di ujung batang.

Beberapa spesies merupakan penghasil kayu yang penting. Sedangkan beberapa spesies seperti Michelia champaca (di Nanggroe Aceh Darussalam dikenal sebagai bunga jeumpa) dan Michelia doltsopa ditanam karena bunganya. M. champaca juga dikembang-biakkan untuk diambil minyak dari bunganya sebagai bahan parfum. Beberapa spesies juga ditanam sebagai tanaman pembatas jalan seperti M. figo, M. doltsopa dan M. champaca.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Magnoliales
Famili: Magnoliaceae
Upafamili: Magnolioideae
Genus: Michelia
L.

CENGKEH


Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkeh ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar, India, dan Sri Lanka.

Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm.
Tumbuhan ini adalah flora identitas Provinsi Maluku Utara.
Penggunaan

Cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Republik Rakyat Cina dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Myrtales
Familia: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: S. aromaticum

ANDALAS (BEBESARAN )


Bebesaran atau murbei (Latin: Morus) adalah sebuah genus yang terdiri dari 10–16 spesies pohon tertentu yang asli berasal dari daerah panas sedang dan subtropis di Asia, Afrika dan Amerika. Mayoritas spesies asli berasal dari Asia. Salah satunya yang terkenal adalah di desa Andaleh, kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang telah mencapai usia lebih dari 120 tahun.

Bebesaran tumbuh cukup cepat pada saat masih muda, namun kemudian tumbuh lambat dan tingginya jarang melebihi 10-15 m. Daun bebesaran merupakan daun sederhana berbentuk cuping dan menggergaji di bagian tepi. Buah murbei merupakan buah majemuk dengan panjang 2-3 cm, berwarna merah bila masih mudah dan ungu tua bila ranum, dan dapat dimakan.

Bebesaran terutama terkenal karena dedaunannya digunakan sebagai makanan ulat sutra. Selain itu, andalas (Morus macroura), salah satu spesies bebesaran, sering digunakan kayunya untuk lantai rumah atau mebel karena kuat dan keras.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Urticales
Familia: Moraceae
Genus: Morus

ANGGREK TIEN SOEHARTO (Cymbidium hartinahianum)


Sumatera Utara boleh berbangga karena memiliki salah satu jenis tumbuhan (jenis anggrek) yang endemik atau yang hanya tumbuh di Sumatera Utara. Kebanggaan ini bertambah lagi disebabkan pada anggrek tersebut ditabalkan nama ibu negara almarhumah Hj. Siti Hartinah Soeharto. Yaitu Anggrek Tien Soeharto atau sering juga disebut dengan Anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum).

Habitatnya ditemukan di Desa Baniara Tele Kecamatan Harian Kabupaten Tapanuli Utara (berbatasan dengan Kabupaten Dairi). Lokasi dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dari kota Medan melalui kota Sidikalang (ibukota Kabupaten Dairi) sejauh 400 km selama lebih kurang 5 jam perjalanan.
Mengingat habitatnya berupa semak-semak yang tidak terawat serta sebagian lagi lokasi perladangan penduduk dan ditambah lagi tidak adanya petunjuk khusus (seperti papan informasi) tentang keberadaan lokasi ini, maka bagi yang belum pernah akan mengalami kesulitan untuk menemukan.

Oleh karena itu disarankan agar terlebih dahulu menghubungi kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam I Medan atau langsung pada Kantor Sub Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Dairi di Sidikalang yang akan membantu menunjukkan lokasinya.

PENEMU

Anggrek ini pertama kali ditemukan oleh Rusdi E Nasution, seorang peneliti dari Herbarium LBN/LIPI Bogor pada tahun 1976. Ketika itu anggrek ini tidak ditemukan dalam berbagai pusta maupun dalam koleksi. Kemudian oleh peneliti tersebut bersama peneliti lainnya J.B. Comber memberi nama ilmiah Cymbidium hartinahianum yang juga berarti anggrek Tien Soeharto pada hasil temuannya.

Penabalan ini Ibu Negara pada jenis anggrek ini merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam rangka pengembangan dunia peranggrekan di Indonesia.

INDENTIFIKASI

Anggrek Tien Soeharto tumbuh baik ditempat terbuka diantara rerumputan serta tanaman lain seperti jenis paku-pakuan, kantong semar, dan lain-lain pada ketinggian 1.700 meter diatas permukaan laut.

Anggrek ini merupakan anggrek tanah yang pertumbuhannya merumpun. Daunnya berbentuk pita berujung meruncing dengan panjang 50-60 cm. Bunganya berbentuk bintang bertekstur tebal. Daun kelopak dan daun mahkotanya hampir sama besar, permukaan atasnya berwarna kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepinya.

UPAYA KONSERVASI

Habitat Anggrek Tien Soeharto di Baniara, Tele berada di luar kawasan hutan, tepatnya pada areal kebun penduduk, yang diperkirakan hanya tinggal lebih kurang 1.200 meter persegi. Sebagai lahan kosong, yang tidak dimanfaatkan, selalu terbuka peluang pemanfaatan lahan untuk berbagai kegiatan seperti misalnya pendirian bangunan/gedung dan perluasan kegiatan perladangan penduduk. Kalau sampai ini terjadi baik habitat maupun populasinya akan musnah. Oleh karena itu perlu langkah-langkah penyelamatan melalui penetapan habitat dimaksud sebagai kawasan konservasi disamping mengadakan budidaya di luar habitat aslinya (konservasi ex situ).

BUNGA BANGKAI (Amorphophallus titanum)


Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum) ini tumbuh di Kawasan Taman Wisata/Cagar Alam Sibolangit. Bunga ini memberi pesona tersendiri karena dismping keindahan juga pertumbuhannya yang tinggi dan besar. Itulah sebabnya disebut juga dengan Suweg Raksasa. Bunga yang tumbuh 1995, tingginya mencapai 210 cm. Sedangka sebelumnya tahun 1989 tingginya mencapai 150 cm. Dan diprediksi akan tumbuh lagi pada tahun 2000 di Taman Wisata Sibolangit.

PENEMU

Bungan Bangkai (Amorphophallus titanum) pertama kali ditemukan di Sibolangit pada tahun 1920-an. Adapun penemu pertama jenis bunga ini adalah Odoardo Beccari seorang pakar botani berkebangsaan Italia. Ketika itu, tahun 1878, dalam perjalanannya di Kepahiang – Rejang Lebong (Bengkulu) ia menemukan tumbuhan bunga bangkai. Kemudian oleh rekannya Prof. Giovanni Arcaneli dari Turki, diberi nama ilmiah Amorphophallus titanum terhadap hasil temuan Beccari tersebut. Sejak itu dunia botani mengenal bunga bangkai dengan nama Amorpophallus titanum Beccari.

Bau bunga menimbulkan kesan tidak enak, seolah-olah bau bangkai yang busuk seperti bangkai tikus, dan dari bau inilah maka namanya disebut bunga (kembang) bangkai.

IDENTIFIKASI

Bunga ini muncul dari dalam tanah berasal dari umbi tumbuhan yang telah hilang pada akhir masa pertumbuhannya. Dalam masa perkembangan, bunga atau kembang sangat tergantung pada umbi yang ada di dalam tanah.
Bunga ini terdiri dari : tangkai bunga, kelopak atau selundang dan bongkol berbentuk tugu ditengah-tengah kelopak bunga.

Perkembangan bunga yang dimulai sejak berbentuk kuncup hingga menjadi kayu diperkirakan kurang lebih 2 bulan. Bahkan bunga bangkai yang tumbuh di Taman Wisata Sibolangit pada tahun 1995 masa siklus dari mulai kuncup hingga mekar jauh leih cepat sekitar 22 hari dan waktu tercepat pada saat kelopak bunga layu hanya sekitar 24 jam.

Bunga bangkai (cadaver scent), terutama di malam hari, yang terkadang aromanya dapat tercium sejauh 25 meter dari tempat tumbuhnya, menarik dan merangsang lalat serta serangga lainnya untuk melakukan penyerbukan.
Banyak orang mengidentikannya dengan bunga bangkai yang satu lagi yaitu Rafflesia arnoldi bunga terbesar di dunia (padma raksasa). Pada hal keduanya memiliki perbedaan yang sangat prinsipil. Persamaan yang paling menonjol diantara kedua kembang ini terletak pada bau atau aroma yang disebarkan. Sedangkan perbedaannya meliputi :

* Dalam hal bentuk, dimana Rafflesia arnoldi berbentuk bundar melebar sedangkan Arorphophallus titanum berbentuk kerucut seperti agung yang masih berbalut;
* Bianga Arorphophallus titanum adalah umbi yang tertanam di dalam tanah. Sedangkan Rafflesia arnoldi merupakan parasit yang tumbuh pada akar-akar liana dan yang menyebarkannya terutama adalah babi hutan yang tidak sengaja melukai akar liana dengan injakan. Pada injakan bekas kuku babi hutan itulah spora rafflesia tersimpan dan menemukan tempat yang cocok untuk tumbuh.

Tahul Tahul


Ingat tidak tumbuhan yang satu ini?

Tumbuhan ini sangat diminati oleh orang-orang di penjuru dunia karena keunikan dan kecantikannya. Tumbuhan ini di Indonesia disebut dengan nama “Kantong Semar” atau “Periuk Monyet”, dan di kampung kami namanya “Tahul-tahul”.

Di Taman Eden 100, Tobasa, tumbuhan langka ini tumbuh subur dan terdiri dari bermacam-macam jenis, bentuk dan warna. Ada yang berwarna hijau muda, merah, ungu, kuning, dan loreng. Bentuk batang juga ada berbagai jenis antara lain ada yang menempel di tanah dan ada juga yang menjalar pada pohon-pohon rimba.

Teringat waktu dulu semasa kanak-kanak di lokasi taman Eden 100 ini hampir setiap hari kami dan teman-teman berpetualang ke hutan, dan dikala haus dan dahaga mulai terasa di tenggorokan kami mencari “kantong semar” yang muda dan masih tertutup. Kantong ini berisi air yang sangat bening dan sejuk, sangat baik untuk diminum.

Bagi yang hobby tanaman yang satu ini, ada baiknya anda mengunjungi langsung habitat aslinya di “Taman Eden 100″, tapi jangan coba-coba untuk merusaknya demi kelestariannya. Masih banyak jenis-jenis tanaman yang bernilai jual tinggi di lokasi taman ini, dan akan kami coba untuk memperkenalkannya kepada anda dikemudian waktu.

Segala hormat dan Kemuliaan bagi Tuhan yang menciptakan dunia yang begitu indah ini.

Pesona Puspa anggrek bulan.



Bentuk bunganya simetris dan bulat seperti bulan, perhiasan bunganya putih bersih dan mencolok, bertekstur lembut. Karena kesempurnaan bentuknya, keanggunan penampilan, warna bnga, dan merupakan spesies asli Indonesia, menyebabkan banyak yang mengusulkan bunga ini sebagai flora maskot nasional.

Untuk mengetahui kedudukan anggrek bulan dalam taksonominya, berikut ini adalah klasifikasi lengkap si puspa pesona:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Gymnospermae
Kelas : Monotyledoneae
Bangsa : Orchidales (Gynandrae)
Suku : Orchidae
Marga : Phalaenopsis
Jenis : Phalaenopsis amabilis
Bagi pehobi anggrek, nama anggrek bulan tentu tak bisa diabaikan begitu saja. Sebagai salah satu jenis anggrek Indonesia, anggrek bulan telah memikat hati para penggemar anggrek. Kepopulerannya bahkanmerambah pada kalangan pemula hingga awam sekali pun. Wajar saja, anggrek yang punya nama Latin Phalaenopsis amabilis ini punya sejuta pesona yang mengundang decak kagum. Lihatlah keindahan itu pada sosok bunganya yang putih bersih. Mau tak mau, bunga ini pun menyentuh tataran seni dan estetika para seniman, hingga menjadi inspirasi sebuah lagu, relief candi, motif batik, sampai kreasi motif gagang keris.


Anggrek bulan bukan saja punya warna bunga yang putih bersih, tetapi juga memiliki untaian yang tersusun sempurna dan proporsional. Plus warna bibir bunga kuning menyala. Dari segi ukuran, anggrek ini tergolong di atas rata-rata. Berkat semua keunggulan dan kecantikan tadi, tak mengherankan jika pemerintah Indonesia menobatkan anggrek bulan sebagai ”Puspa Pesona”.

Tampaknya, beberapa alasan yang sama membuat hati Lily Turangan tergelitik menekuni hobi koleksi anggrek bulan ini. Ibu berusia 57 tahun ini memang gemar berurusan dengan dunia flora. ”Sejak tahun tujuh puluhan, saya memang senang mengoleksi anggrek. Bukan cuma merawatnya saja, tapi saya juga mengembangbiakkan anggrek-anggrek itu,” ujarnya sembari tersenyum.

Pemilik kebun wisata Pasirmukti itu melanjutkan cerita, ”Saya jatuh cinta dengan dunia tumbuhan, khususnya anggrek karena latar belakang saya sebagai lulusan pertanian. Kalau sudah mengurusi anggrek-anggrek itu saya bisa jadi lupa waktu.” Tentu didukung background pertanian tadi, Lily pun memutuskan untuk ”terjun bebas” dalam dunia anggrek. ”Apalagi, waktu itu anak-anak saya sudah menjelang dewasa. Jadi sebagian besar waktu bisa saya curahkan di sini (menunjuk kebun anggrek miliknya).”

Sebagai langkah awal, ia coba mengembangkan anggrek dari jenis Dendrobium. Lama-kelamaan, wanita ramah ini mulai tertarik untuk menanam beberapa anggrek bulan. Akhirnya, koleksi Lily terus bertambah. ”Dulu, saya pikir untuk merawat anggrek bulan itu sulit. Tetapi (setelah dilakoni) ternyata untuk merawatnya sama saja seperti Dendrobium. Kuncinya, asalkan anggrek ini cocok untuk hidup di tempat itu,” ucap ibu yang masih tetap lincah dan berenergi itu.

Hal yang sama juga dialami Fanny Abdullah, 45 tahun. Ibu tiga anak ini mengaku jatuh cinta pada anggrek bulan, karena tanaman ini tergolong istimewa. ”Bunga anggrek ini punya kelopak yang besar. Satu tangkainya bisa diisi 20 kuntum bunga sekaligus,” ucap pehobi anggrek yang juga pemilik kios anggrek di kawasan Senayan ini. Yang pasti anggrek bulan bisa berbunga sepanjang tahun. ”Dia kan tak kenal musim untuk berbunga,” katanya.

Sabar dan Telaten


Walau punya cara perawatan yang tak berbeda dengan jenis anggrek lainnya, untuk membuat anggrek bulan terlihat cantik tetap saja butuh kesabaran dan ketelatenan. Plus mengetahui karakter tanaman yang kita koleksi. ”Paling tidak kita tahulah frekuensi penyiraman, pemupukan dan penggantian media tanam yang tepat. Serta jangan lupa untuk merawatnya dari serangan hama penyakit,” ujar Hadi Iswanto, ahli anggrek dari Forum Kerjasama Agribisnis, sebuah lembaga manajemen agribisnis. Fanny pun mengaku tak masalah dengan perawatan anggrek ini. ”Yang penting jaga saja dia dari kelembaban yang berlebihan.” (baca : Cermat Merawat, Anggrek Bulan Tumbuh Sehat).
Lily tak menyangkal hal itu. Katanya, bila merawat anggrek bulan dengan asal-asalan, jangan harap akan tumbuh sehat. Kalau sudah begini, anggrek itu pun takkan mengeluarkan bunga yang cantik. Dan frekuensi berbunga pun menurun drastis. Tak lagi berbunga sepanjang tahun.

Padahal ukuran kepuasan dalam hobi anggrek ini terletak pada kemampuan anggrek mengeluarkan bunga dengan kontinyu. Siapa yang tak senang bila sudah merawat sejak kecil hingga bisa menelurkan hasil seperti itu. ”Ya, kalau sudah bisa berbunga, rasanya semua jerih payah kita terbayar. Wah, pokoknya sebuah kepuasan batin yang tak ternilai harganya,” kata Lily dengan gaya seperti orang bersyukur kepada Tuhan. Lantas, ia juga mengingatkan, bunga yang dihasilkan tadi, bukan sembarang bunga. Bunga yang nongol itu punya warna cerah dan tumbuh sehat. Urusan kualitas bunga itu bisa jadi tolok ukur, mana pehobi yang menanam secara asal-asalan dengan kolektor serius.

Dari situ, rasa puas tak mandek begitu saja. Akan lahir pula rasa penasaran. ”Maksudnya begini, saya kan sudah punya anggrek yang berwarna ini, kenapa saya tak silangkan dengan anggrek bulan untuk mendapat keturunan baru. Tentu akan dihasilkan warna dan jenis lain kan. Kalau warna sudah banyak, biasanya saya mencari bentuk bunga yang lain dan unik,” papar Lily panjang lebar. Dengan begitu, ia pun memasuki wilayah kawin-mawin antarberagam jenis anggrek. Jadi tak terbatas anggrek bulan saja. Akhirnya, Lily mencari pehobi lain yang punya koleksi anggrek. Lalu terjadilah aksi barter. ”Banyak orang yang memelihara anggrek, tapi sayangnya tak semua orang tulus dan mau terbuka dalam memberi informasi,” keluhnya dengan nada serius.

Sering Salah

Awam acap kali salah mengartikan Phalaenopsis sebagai anggrek bulan. Padahal, anggrek bulan hanyalah salah satu spesies dari genus Phalaenopsis. Dalam genus ini terdapat 40 sampai 60 spesies. Jumlah varietasnya sekitar 140 jenis, enam puluh di antaranya ada di negara kita.

Nama Phalaenopsis berasal dari bahasa Yunani, yaitu phalaenos dan opsis. Phalaenos itu berarti ngengat atau kupu-kupu. Sedang opsis artinya bentuk atau penampakan. Pada tahun 1825, Blume – seorang ahli botani asal Belanda, menamakan genus anggrek ini dengan Phalaenopsis. Nama itu muncul karena saat pertama kalinya berjumpa di dalam hutan, ia mengira telah melihat sekawanan kupu-kupu putih yang tengah hinggap pada sebatang ranting.

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume itu dianggap punya peran penting dalam genus Phalaenopsis. Sebagai induk, Phalaenopsis mampu ”menelurkan” pelbagai keturunan atau hibrida. Selain itu, anggrek jenis ini mampu berbunga sepanjang tahun. Rata-rata masa berbunganya selama satu bulan.

Di Indonesia, Phalaenopsis amabilis pertama kali dijumpai di Ambon, Maluku oleh GE Rumphius pada 1750. Lalu anggrek temuannya itu diberi nama Angraecum album-majus. Kita sendiri mengenal beberapa nama untuk jenis ini, seperti anggrek menur (Jawa Barat), anggrek terbang (Maluku) dan anggrek wulan (Bali). Tapi nama paling populer adalah anggrek bulan.

Anggrek bulan hidup dalam hutan hujan tropis yang teduh dan lembab. Wilayah penyebarannya cukup luas. Dari Sumatera Barat ke arah selatan, seluruh Jawa, Kalimantan termasuk Serawak, Brunei Darussalam dan Sabah. Di Filipina, anggrek mirip kupu-kupu ini ditemukan di Kepulauan Mindanao bagian selatan. Ke arah timur anggrek yang satu ini bisa dijumpai di Bali, sebuah Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua, termasuk Papua Nugini.

Dengan kawasan sebaran sangat luas yang diikuti dengan variasi angroklimat berbeda-beda, variasi bentuk dan ukuran bunga anggrek berjuluk butterfly orchid ini sangat beragam. Namun perbedaan bentuk dan ukuran kuntum bunga belum tentu merupakan ciri dari sebuah varietas tersendiri.

Kata Lily, untuk membedakan anggrek bulan dengan jenis lainnya, cara paling gampang melihat ciri fisik tanaman. Coba saja amati bentuk akar, batang, daun dan bunga. Dari situlah kita bisa mengidentifikasi perbedaan karakteristik anggrek ini. Bahkan sebagian penamaan genus anggrek merujuk pada bentuk bunganya.

Secara umum, susunan bunga anggrek bulan tak jauh beda dengan anggrek jenis lain. Bunga itu tersusun menurut pola baku. Sebuah sepala atau kelopak bunga dan tiga buah petala atau tajuk bunga. Ukuran kelopak bunga anggrek bulan rata-rata lebih kecil atau hampir sama dengan tajuk bunganya. Bibir bunga punya tiga penutup, yaitu penutup samping, sejajar dengan tiang bunga dan penutup tengah yang terkadang berbulu halus.
Menurut Hadi, daun anggrek bulan memiliki warna hijau dengan tekstur tebal dan berdaging. Ini berfungsi sebagai penyimpan air dan cadangan makanan. Lebar daun rata-rata 5 – 10 cm. Pertumbuhan batang anggrek bulan bersifat monopodial. ”Artinya, meninggi atau vertikal pada satu titik tumbuh dan terdiri dari hanya satu batang utama. Bunga keluar dari sisi batang di antara kedua ketiak daunnya,” ujar lelaki yang sempat bekerja paruh waktu di Perhimpunan Anggrek Indonesia itu.

Di habitat aslinya, kata Hadi, anggrek bulan hidup epifit. Akarnya menempel pada batang atau dahan tanaman lain. Biasanya akar yang menempel itu mengikuti permukaan batang tempatnya menempel. Akarnya nyaris tak berambut. Di sini, terdapat jaringan velamen. Fungsinya memudahkan akar menyerap air hujan yang jatuh pada kulit pohon inang. Jaringan ini juga bertugas sebagai alat pernapasan anggrek.
(str/bayu dwi mardana) Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/