Showing posts with label Satwa Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Satwa Nusantara. Show all posts

Tahukah kamu, Populasi Orang utan di Indonesia turun hingga 80%

Populasi orangutan di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mengalami penurunan cukup drastis, yakni mencapai 80 persen atau saat ini hanya tersisa sekitar 6.000 ekor. Direktur ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Senin (8/4), mengemukakan meski orangutan tersebut termasuk hewan langka yang dilindungi Undang-undang, perdagangan hewan tersebut masih tetap marak. "Maraknya perdagangan orangutan, bahkan berbagai jenis hewan yang dilindungi lainnya itu akibat dari rendahnya kesadaran masyarakat dan lemahnya penegakan hukum di Tanah Air. Jika hukum (UU) benar-benar ditegakkan, pasti masyarakat tidak akan berani melanggarnya," tandas Rosek. Satwa langka tersebut dilindungi UU yang dituangkan dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku perdagangan orangutan bisa dikenakan sanksi hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp100 juta. Rosek mengatakan rusaknya habitat dan perdagangan orangutan menjadi faktor utama menurunnya populasi orangutan di alam, di samping semakin maraknya alih fungsi hutan serta perburuan oleh masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya juga berharap bisa mendorong pemerintah untuk lebih serius memperhatikan pelestarian orangutan, termasuk habitat orangutan yang semakin tergusur dan terancam punah dari muka bumi. Sebab, habitat orangutan yang merupakan satu-satunya jenis kera besar yang hidup di Asia itu hanya tinggal di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan tiga kerabatnya, yakni simpanse, gorila dan bonobo hidup di Afrika. "Kalau puluhan tahun lalu kita masih bisa menemukan orangutan di kawasan Asia lainnya, sekarang hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Jumlahnya pun hanya tinggal sedikit," kata Rosek. Sumber Artikel: http://www.apakabardunia.com

9 Hewan terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia

Terima kasih kepada sahabat-sahabat yang telah mengoreksi artikel saya, agar supaya tidak terjadi penyimpangan informasi yang lebih jauh lagi, sementara posting saya ini menjadi 9 Hewan dulu, sampai nanti saya menemukan sumber yang lain lagi, mohon maaf sebelumnya.
1. Ular Piton Terbesar
Ular piton (Python reticulatus) yang terbesar pertama kali ditemukan pada tahun 1912 di pulau Sulawesi, dengan panjang 33 kaki atau sekitar 10 meter. Sementara itu di Sumatra di temukan Ular Piton Raksasa dengan panjang 14.85 meter dan berat mencapai 447 kg.

2. Komodo, Kadal terbesar di Dunia
Tentunya kita sudah sangat mengenal binatang yang satu ini, Komodo Dragon (Varanus komodoensis) dikenal sebagai kadal terbesar di Dunia yang memiliki racun untuk membunuh mangsanya.


3. Lebah Terbesar
(Megachile Pluto) Pertama kali ditemukan di pulau Sulawesi pada tahun 1859 oleh Alfred Russel Wallace. Lebah betina memiliki panjang hingga 39 mm (1.5 inchi) atau sekitar 4 cm dan panjang sayapnya mencapai 63 mm (2.5 inchi) atau sekitar 6.3 cm.

4. Penyu Terbesar
Penyu ini ditemukan pada Agustus 2009 di pantai Jamusrba Mebi, Papua Barat, Indonesia. Memiliki panjang sekitar 180 cm, beratnya mencapai 500 kg.

5. Kecoa Terbesar
Kecoa terbesar yang paling dikenal adalah Kecoa Madagaskar (Gromphadorhina portentosa), kecoa dewasa memiliki panjang 2-3 inchi atau sekitar 7-8 cm. Namun di Kalimantan, para peneliti menemukan kecoa terbesar lainnya yang memiliki panjang sekitar 4 inchi atau sekitar 10 cm. Mereka yakin bahwa kecoa ini adalah kecoa terbesar di Dunia.

6. Tikus Terbesar
(Mallomys Giant Rat) Ditemukan di pegunungan Foja, Papua, Indonesia. Memiliki berat sekitar 1.4 kg, 5 X lebih berat dari Brown Rat.

7. Kelelawar terbesar
Kelelawar ini (Pteropus vampyrus) adalah yang terbesar dari spesies kelelawar lainnya banyak ditemukan di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

8. Kupu-kupu Terbesar
Kupu-kupu Atlas (Attacus Atlas) adalah sebuah ngengat besar ditemukan di hutan tropis dan subtropis Asia Tenggara, Cina bagian selatan, umumnya di seluruh kepulauan Malaya, Thailand dan Indonesia.

9. Serangga bertungkai terbesar
Dengan dengan sebutan Chan’s megastick (Phobaeticus chani), serangga ini ditemukan di hutan hujan Kalimantan oleh seorang peminat serangga dan diserahkan kepada Natural History Museum di London. Panjang serangga ini mencapai 1.8 kaki atau sekitar 55 cm.


sumber:
http://korananakindonesia.wordpress.com/
http://www.worldscutestanimals.com/
http://news.mongabay.com/
http://groups.yahoo.com/
http://news.bbc.co.uk/
http://www.aussiebee.com.au/
http://www.worldwildlife.org/
http://triy.wordpress.com/
http://scienceray.com/
http://www.reptilediscovery.com/
http://freshinspirasi.blogspot.com/
http://bureketo.blogspot.com/
http://xfile-enigma.blogspot.com/
bilaman terdapat kesalahan dalam artikel ini, mohon diralat, terima kasih.

Bidadari Halmahera


INDONESIA memang kaya flora dan fauna. Sayang kekayaan itu tidak dijaga, dilestarikan secara serius. Buktinya, burung Bidadari (semioptera wallacei) yang ada di belantara rimba Halmahera dan Pulau Bacan Maluku, kini terancam punah.

Diperkirakan, burung yang ditemukan ilmuwan asal Inggris, Alfred Russel Wallace kini tinggal sekitar 50 sampai 100 ekor. Jumlah ini terus menyusut setiap tahunnya lantaran diburu untuk dijual, bahkan habitatnya tergeser oleh maraknya ekplorasi pertambangan dan penebangan hutan secara ilegal.

Populasi Bidadari kini banyak didominasi jenis jantan. Penyebaran burung ini, hanya tersisa di beberapa lokasi, salah satunya di kawasan hutan Batu Putih Domato, Sidangoli, kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat.

Selain di kawasan tersebut, Bidadari Halmahera juga bisa ditemui di kawasan hutan Wasiley (Halmahera Tengah), gunung Sibela, Bacan (Halmahera Selatan), dan kaki gunung Gamkonora (Halmahera Utara). Keunikan burung ini yakni hanya muncul di pagi hari sekitar pukul enam hingga sembilan pagi.

Nama burung bidadari itu, diberikan oleh Wallace saat melakukan ekspedisi di Maluku tahun 1858. Wallace terkagum-kagum saat melihat keindahan warnanya yang didominasi hijau dan kecantikan yang seindah bidadari.

Saat itu semua orang tahu bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, tetapi ternyata Ali, anak Melayu asisten Wallace menemukan sejenis cenderawasih di Pulau Bacan, Halmahera, yang berukuran 25 sampai 30 sentimeter, dengan spesifikasi tubuh yang menarik, juga warnanya yang menakjubkan.

Dalam The Malay Archipelago: The Land of The Orang-utan and The Birds of Paradise (1869) yang ditulisnya setelah menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), Wallace melukiskan, sebenarnya keseluruhan bulu burung bidadari tergolong biasa dan sederhana. cuma warnanya sehijau daun zaitun, dengan sedikit keungu-unguan di ujung dekat ekornya.

Kepalanya seperti memakai mahkota karena dihiasi bulu ungu muda berkilat. Leher dan dadanya berwarna hijau mengkilat. Semakin ke bawah, bulu-bulunya seperti terpisah menjadi dua bagian, masing-masing ke arah sayap kanan dan kiri. Kakinya berwarna kuning kemerahan, paruhnya berwarna seperti tanduk, dan matanya hijau seperti buah zaitun.

Namun, empat helai bulu panjang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayapnya betul-betul membuatnya memiliki karakter unik. Bulu itu tidak lebar, tetapi sangat lembut dan seperti teranyam pada sayapnya. Bulu setiap helainya sepanjang sekitar enam inci itu menjulur hanya pada saat-saat tertentu yang diinginkan burung.

Yang pasti, antena putih susu itu hanya dimiliki oleh burung jantan. Bulu indah itu terjulur terutama pada saat fajar menyingsing, saat bidadari jantan beratraksi di ketinggian pohon untuk menarik perhatian pasangannya.

kerang penghasil mutiara

Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya) Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap) Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar.

Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.
Australia Utara & Indonesia
Kawasan ini merupakan areal tempat hidup kerang mutiara. Sepanjang pantai utara Australia, ke utara di perairan Arafura, Indonesia (Dobo) dan ke arah timur melewati Selat Torres, selat yang memisahkan Australia dan pulau Papua. Titik-titik kumpulan kerang mutiara di daerah ini ditemukan sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Jenis kerang pada umumnya adalah Pinctada maxima. Kawasan Dobo adalah kawasan terkenal sehingga mutiara yang dihasilkan dari daerah ini disebut mutiara Dobo. Sementara di kawasan Australia, beberapa titik merupakan areal kumpulan kerang mutiara yang banyak seperti di Shark Bay dan Thursday Island. Jumlah penyelam yang mati di kawasan ini termasuk tinggi, umumnya akibat serangan hiu

Kadal


Kadal adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk kelompok reptil. Secara luas, pengertian kadal atau kerabat kadal (bahasa Inggris: lizards) juga mencakup kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Sedangkan secara sempit, istilah kadal dalam bahasa Indonesia biasanya merujuk terbatas pada kelompok kadal yang umumnya bertubuh kecil, bersisik licin berkilau, dan hidup di atas tanah (Ingg.: skink, suku Scincidae, atau umumnya anggota infraordo Scincomorpha).

Jadi, secara umum kadal ini mencakup jenis-jenis yang bertubuh kecil seperti kadal pasir Lygosoma, sampai ke biawak Komodo (Varanus komodoensis) yang bisa mencapai panjang lebih dari 3 m. Secara ilmiah, kelompok besar ini dikenal sebagai subordo atau anak bangsa Lacertilia (=Sauria), bagian dari bangsa hewan bersisik (Squamata).

Anak bangsa Lacertilia pada umumnya memiliki empat kaki, lubang telinga luar, dan pelupuk mata yang dapat dibuka tutup. Meskipun demikian, sebagai kekecualian, ada pula anggota-anggotanya yang tidak memiliki sebagian ciri itu. Contohnya adalah ‘ular’ kaca (glass snake atau glass lizard, suku Anguidae) yang tak berkaki.

Selain karakter yang disebutkan di atas, sebagaimana galibnya reptil, kadal berdarah dingin (itu sebabnya kadal kerap berjemur) dan mempunyai sisik-sisik yang beraneka bentuknya yang terbangun dari zat tanduk. Terdiri tak kurang dari 40 suku, kadal memiliki pola warna, bentuk dan ukuran yang sangat beragam. Sebagian jenis mempunyai sisik-sisik yang halus berkilau, terkesan licin atau seperti berminyak, walaupun sebenarnya sisik-sisik itu amat kering karena kadal tidak memiliki pori di kulitnya untuk mengeluarkan keringat atau minyak.

Kebanyakan kadal bertelur (ovipar), meskipun ada pula yang melahirkan anak (vivipar). Juga, umumnya kadal dapat menumbuhkan kembali ekor atau bahkan tungkai yang terputus.

Beberapa spesies kadal tak berkaki, seperti ular kaca misalnya, memiliki struktur gelangan bahu dan panggul dalam tubuhnya, meski tak ada tungkainya. Meski bentuknya mirip, kadal-kadal ini bisa dibedakan dari ular sejati karena memiliki pelupuk mata yang dapat digerakkan, lubang telinga luar, dan dapat memutuskan ekornya dalam keadaan bahaya; ciri-ciri yang tak dimiliki oleh ular.

Banyak jenis kadal yang merupakan pemanjat pohon yang baik atau pelari cepat. Beberapa di antaranya bahkan dapat berlari di atas dua kaki dengan amat cepatnya, seperti halnya kadal tercepat di dunia: iguana berekor duri dari marga Ctenosaura.

Kadal-kadal tertentu, misalnya bunglon, dapat berganti warna sesuai kondisi lingkungan atau suasana hati. Meski kebanyakan hidup di daratan, umumnya kadal dapat berenang dengan baik. Beberapa jenisnya, seperti biawak, bahkan beradaptasi dengan baik di lingkungan perairan.

Kebanyakan kadal tinggal di atas tanah (terestrial), sementara sebagiannya hidup menyusup di dalam tanah gembur atau pasir (fossorial). Sebagian lagi berkeliaran di atas atau di batang pohon (arboreal). Alih-alih sebagai predator penyergap, kebanyakan kadal aktif menjelajahi lingkungannya untuk memburu mangsa.

Walaupun kebanyakan jenisnya adalah binatang pemangsa (predator), namun sesungguhnya makanan kadal sangat bervariasi. Mulai dari buah-buahan dan bahan nabati lain, serangga, amfibia, reptil yang lain, mamalia kecil, bangkai, bahkan kadal besar semacam biawak Komodo juga dapat memburu mamalia besar, hingga sebesar rusa atau babi hutan.

Kadal-kadal bertubuh kecil memakan aneka serangga seperti nyamuk, lalat, ngengat dan kupu-kupu, berbagai tempayak serangga, cacing tanah, sampai kodok dan reptil yang lain yang berukuran lebih kecil. Kadal kebun (Mabuya multifasciata) terkadang memangsa kodok tegalan (Fejervarya limnocharis), bahkan suka memanjat tembok yang kasar untuk menangkap cecak kayu (Hemidactylus frenatus) yang terlengah.

Hingga kini dikenal dua jenis kadal yang gigitannya terbukti berbisa: yakni kadal raksasa Gila dan kadal manik-manik Meksiko. Kedua jenis kadal yang berkerabat ini hidup di baratdaya Amerika Serikat dan Meksiko utara. Meski ada banyak mitos dan legenda yang beredar menyangkut kedua makhluk tersebut, dan fakta bahwa gigitan mereka bisa menyebabkan luka yang serius, namun sejauh ini tidak ada catatan mengenai kematian yang terjadi pada manusia akibat gigitannya.

Penelitian di Australia belum lama ini[1] memperlihatkan adanya kemungkinan beberapa jenis kadal kerabat iguana dan biawak memiliki kelenjar bisa pula. Meskipun, jika dugaan ini benar, bisa ini diyakini tidak atau hanya sedikit membahayakan manusia, mengingat bahwa bisa ini dikeluarkan kadal-kadal tersebut sedikit demi sedikit melalui proses mengunyah mangsanya, dan bukan disuntikkan sekaligus dalam jumlah besar sebagaimana pada gigitan ular berbisa.

Sebelumnya diyakini bahwa pembengkakan dan iritasi yang terjadi akibat gigitan kadal-kadal itu ialah karena adanya infeksi bakteri yang menyertai gigitan. Hal ini masih benar pada kebanyakan kasus, akan tetapi penelitian di atas mengisyaratkan kemungkinan pembengkakan itu terjadi akibat masuknya bisa kadal. Lebih jauh, para ahli yang mendukung penelitian ini mengajak untuk meninjau kembali sistem klasifikasi kadal khususnya terkait dengan perkembangan kelenjar bisa pada reptil tersebut. Jika berhasil, penelitian ini dapat memperbaiki pemahaman mengenai evolusi kadal, ular dan bisanya.

Kebanyakan kadal tidak berbahaya bagi manusia. Gigitannya, bahkan, jarang-jarang yang sampai dapat mengalirkan darah dari luka yang ditimbulkannya. Hanya jenis yang luar biasa besar, seperti biawak Komodo, yang bisa membunuh manusia dan hewan ternak. Kadal raksasa Gila dan kadal manik-manik Meksiko yang berbisa tidak selalu mematikan, meski luka yang diakibatkan oleh gigitannya dapat sangat menyakitkan. Umumnya kadal bahkan berguna bagi manusia karena mengendalikan aneka hama yang mengganggu; bernilai tinggi sebagai hewan peliharaan (pet); menghasilkan kulit untuk aneka bentuk kerajinan; dan ada pula yang dimakan.

Kadal juga penting dalam sebagian budaya dan mitologi suku-suku tradisional, misalnya di Australia dan Peru. Tidak mengherankan jika kadal kerap diterakan dalam simbol-simbol kesenian tradisional itu.

Sebagian orang meyakini bahwa daging kadal dapat dipergunakan sebagai obat sakit kulit dan lain-lainnya. Kadal (biasanya kadal kebun, tokek, atau cecak) ditangkap atau dikail dengan mempergunakan umpan capung atau kupu-kupu. Setelah dibersihkan, daging kadal dibakar atau digoreng, dan dijadikan lauk makan.

Subordo Lacertilia (Sauria) - (Kadal)

* †Suku Bavarisauridae
* †Suku Eichstaettisauridae
* Infraordo Iguania
o †Suku Arretosauridae
o †Suku Euposauridae
o Suku Corytophanidae
o Suku Iguanidae (iguana dan iguana ekor-duri)
o Suku Phrynosomatidae
o Suku Polychrotidae (Anolis)
+ Suku Leiosauridae (Polychrotinae)
o Suku Tropiduridae
+ Suku Liolaemidae (Tropidurinae)
+ Suku Leiocephalidae (Tropidurinae)
o Suku Crotaphytidae
o Suku Opluridae (iguana Madagaskar)
o Suku Hoplocercidae
o †Suku Priscagamidae
o †Suku Isodontosauridae
o Suku Agamidae (bunglon, cecak terbang dan soa-soa)
o Suku Chamaeleonidae (bunglon kameleon)
* Infraordo Gekkota
o Suku Gekkonidae (tokek dan cecak)
o Suku Pygopodidae
o Suku Dibamidae
* Infraordo Scincomorpha
o †Suku Paramacellodidae
o †Suku Slavoiidae
o Suku Scincidae (kadal kebun dan aneka kadal sejati)
o Suku Cordylidae
o Suku Gerrhosauridae
o Suku Xantusiidae
o Suku Lacertidae (kadal rumput dan aneka kadal tebing)
o †Suku Mongolochamopidae
o †Suku Adamisauridae
o Suku Teiidae (tegu)
o Suku Gymnophthalmidae (spectacled lizards)
* Infraordo Diploglossa
o Suku Anguidae (ular kaca)
o Suku Anniellidae (kadal tak-berkaki Amerika)
o Suku Xenosauridae
* Infraordo Platynota (Varanoidea)
o Suku Varanidae (biawak)
o Suku Lanthanotidae (biawak tak-bertelinga)
o Suku Helodermatidae (kadal raksasa Gila & kadal manik-manik Meksiko)
o †Suku Mosasauridae (kadal laut)

Kura Kura


Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.

Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).
Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.

Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.

Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).

Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.

Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan Kep. Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.

Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.

Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.

Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).

Kura-kura secara tradisional merupakan hewan yang akrab dengan manusia. Mitologi Hindu menyebutkan bahwa bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura. Demikian pula, kisah kuno Adiparwa menceritakan bahwa kura-kura raksasa berperan penting menyangga gunung, yang diputar dan digunakan untuk mengaduk lautan, dalam mencari tirta amerta –air kehidupan.

Labi-labi juga menjadi hewan yang disucikan, sehingga kerap dipelihara di kolam-kolam kuil Hindu atau tempat suci lainnya. Karena itu, lukisan kura-kura terkadang muncul pada relief candi atau makam.

Pada sisi yang lain, daging kura-kura dan penyu telah sejak lama dikenal sebagai makanan yang lezat. Beribu-ribu ekor labi-labi, kura-kura dan penyu, terutama penyu hijau, berakhir hidupnya setiap tahun di dapur restoran. Demikian pula nasib telur-telurnya, banyak yang akhirnya menjadi santapan manusia.

Sejenis penyu, yakni penyu sisik (Eretmochelys imbricata), diburu orang untuk diambil sisiknya yang indah sebagai bahan perhiasan. Bersama penyu sisik, beberapa jenis penyu yang lain juga kerap dibunuh dan dikeringkan (diopset) untuk dijadikan hiasan dinding.

Di samping itu banyak jenis kura-kura yang ditangkapi untuk diperdagangkan sebagai hewan timangan (pet). Baik karena keindahan warnanya, keunikannya, atau –ironisnya- kelangkaannya. Beberapa jenisnya dapat mencapai harga yang sangat mahal.

Tekanan yang tinggi dan terus-menerus ini, telah menurunkan banyak populasi kura-kura ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kebanyakan habitat alaminya di sungai-sungai, rawa dan hutan juga telah turut rusak akibat aktivitas manusia. Pada pihak lain, perkembangan populasi kura-kura amat lambat dan kebanyakan malah belum diketahui sifat-sifat dan kebiasaannya. Oleh sebab itu tindakan konservasi bagi hewan ini amat diperlukan.

Dari semua bangsa kura-kura, hanya penyu yang telah dilindungi dengan cukup baik di Indonesia. Hampir semua jenisnya telah dilindungi oleh undang-undang. Banyak pantai peneluran penyu yang telah dimasukkan ke dalam kawasan yang dilindungi, seperti misalnya Pantai Sukamade di Jawa Timur dan Pantai Jamursba-Medi di Papua. Meski demikian, penangkapan penyu dan pengambilan telurnya masih juga berlangsung secara ilegal dan sulit dihentikan.

Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.
Suku-suku tersebut dan beberapa contohnya:
Anak bangsa Pleurodira
Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.

Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)
Pelomedusidae
Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.

BURUNG MANDUR DAHI EMAS



Nama latin : Amblyomis flavifrons Rothschild
Tubuhnya yang agak montok memiliki panjang tubuh 24 cm dengan berat rata-rata 105 - 125 gram. Burung jantannya memiliki jambul berwarna jingga keemasan mulai dari dahi, mahkota sampai tengkuk atas don tubuhnya coklat terang. Burung betina tidak memiliki jambul don tubuhnya coklat kekuningan, agak kusam.

Daerah sebaran : Pegunungan Foja, Papua Barat pada ketinggian di atas 1000 m

Burung ini termasuk burung pemakan buah yang sering dijumpai di permukaan tanah. Pada soot musim berbiak, tibalah waktunya para jantan membuat semacam pondok yang dihiasi dengan buah berwarna untuk menarik pasangannya.

Spesies : Ular Piton Hijau (Morelia viridis / Chondrophyton viridis)


Ular Piton Hijau termasuk spesies ular yang tidak berbisa yang jarang kita temui di hutan, ataupun tidur di rumah. Panjangnya berkisar 1,45-1,5 meter, berbentuk ramping dengan kepala yang agak besar dan hampir berbentuk segitiga. Ular belum dewasa ( anak ) berwarna kuning-merah kecoklat-coklatan dengan beberapa bintik coklat. Bagian perut berwarana putih kekuning-kuningan. Ular dewasa berwarna hijau. Bentuk ujung ekornya runcing yang biasanya di gunakan untuk “mengait” pada ranting pohon. Bola mata besar dengan biji mata tegak lurus ( pada ular dewasa ).

Ular ini tersebar luas di Pulau Irian (Papua), sampai ke Pulau Aru dan Queensland ( Australia ), mulai dari tepi pantai sampai pada ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut. Makanan utamanya berupa mamalia kecil. Ular yang belum dewasa meemakan berbagai kadal dan reptilia lainnya. Belum banyak bukti bahwa ular ini memangsa burung.

Ancaman utama adalah perdagangan. Karena berwarna menarik, ular piton ini sering ditangkap untuk diperdagangkan, sehingga termasuk spsies yang terancam. Oleh CITES (sebuah badan Internasional yang mengawasi dan memantau perdagangan flora dan fauna langka ) Piton hijau dimasukan dalam Appendik II (satwa terancam, hanya diijinkan perdagangan terbatas dengan ijin tertentu ). Selain diperdagangkan, ular ini sering juga dikonsumsi oleh masyarakat. (sumber : Buku RAP, Mengenal Keragaman Hayati Irian Jaya, Conservation International Indonesia)
Diposting oleh IKP di 11:39 PM

Kukang


Kukang—kadang-kadang disebut pula malu-malu—adalah jenis primata yang bergerak lambat. Warna rambutnya beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada punggung terdapat garis coklat melintang dari belakang hingga dahi, lalu bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuh 0,375-0,9 kg, panjang tubuh dewasa 19-30 cm.

Di Indonesia, satwa ini dapat ditemukan di Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Satwa ini menjadi incaran untuk dijadikan hewan peliharaan.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Famili: Lorisidae
Genus: Nycticebus
Boddaert, 1785
Spesies: N. coucang

Komodo (Varanus komodoensis)


Komodo " penguasa di Pulau Komodo " merupakan kadal terbesar yang panjangnya bisa mencapai 3 meter dan beratnya sekitar 70 - 90 kg. Satwa ini hanya terdapat di Nusa Tenggara di Pulau Komodo, Padar dan Rinca serta beberapa pulau kecil di selat antara Sumbawa dan peisisr barat serta utara Flores. Komodo senang tinggal di dalam liang-liang tanah, kadang di bawah batu atau susunan akar pohon. Reptil ini dapat bergerak dengan cepat / lari dengan perut tanpa menyentuh tanah tapi juga dapat berenang di air..

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.

Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.
Evolusi

Perkembangan evolusi komodo dimulai dengan marga Varanus, yang muncul di Asia sekitar 40 juta tahun yang silam dan lalu bermigrasi ke Australia. Sekitar 15 juta tahun yang lalu, pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara memungkinkan para biawak bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang. Komodo diyakini berevolusi dari nenek-moyang Australianya pada sekitar 4 juta tahun yang lampau, dan meluaskan wilayah persebarannya ke timur hingga sejauh Timor. Perubahan-perubahan tinggi muka laut semenjak zaman Es telah menjadikan agihan komodo terbatas pada wilayah sebarannya yang sekarang.

CENDRAWASIH MERAH


Cendrawasih Merah atau dalam nama ilmiahnya Paradisaea rubra adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang sekitar 33cm, dari marga Paradisaea. Burung ini berwarna kuning dan coklat, dan berparuh kuning. Burung jantan dewasa berukuran sekitar 72cm yang termasuk bulu-bulu hiasan berwarna merah darah dengan ujung berwarna putih pada bagian sisi perutnya, bulu muka berwarna hijau zamrud gelap dan diekornya terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, dengan muka berwarna coklat tua dan tidak punya bulu-bulu hiasan.

Endemik Indonesia, Cendrawasih Merah hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta di kabupaten Raja Ampat, provinsi Irian Jaya Barat.

Cendrawasih Merah adalah poligami spesies. Burung jantan memikat pasangan dengan ritual tarian yang memamerkan bulu-bulu hiasannya. Setelah kopulasi, burung jantan meninggalkan betina dan mulai mencari pasangan yang lain. Burung betina menetaskan dan mengasuh anak burung sendiri. Pakan burung Cendrawasih Merah terdiri dari buah-buahan dan aneka serangga.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, serta populasi dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Cendrawasih Merah dievaluasikan sebagai beresiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Macan Tutul (Phantera pardus)

Macan termasuk binatang buas, satwa ini meskipun berukuran lebih kecil dari harimau Sumatera akan tetapi tampak kokoh. Tubuhnya tertutup mantel rambut pendek tebal berwarna dasar kuning kecoklatan dengan pola totol hitam yang berbentuk seperti bunga. Satwa ini menyerang mangsa dari atas dahan dan mematikan mangsanya dengan cara menggigit pada leher dan mendorongnya hingga roboh.


HARIMAU SUMATRA


Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Pulau Sumatra di Indonesia. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.[1]

Penghancuran habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan 2000.

Ciri-ciri

Harimau Sumatra adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut dengan berat 300 pound. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
Habitat

Harimau Sumatra hanya ditemukan di pulau Sumatra. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.
Reproduksi

Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.