Showing posts with label Geografis Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Geografis Nusantara. Show all posts

Surfing di Mentawai


Di milist Rantau@net lagi ramai membicarakan salah satu daerah tujuan pariwisata di Sumatera Barat yaitu Kepulauan Mentawai. Yang utama dibicarakan adalah olahraga surfing dan pemandangannya.

Kegiatan surfing di Mentawai ini hanya dikenal oleh para surfer luar negeri. Katanya banyak olahragawan internasional senang main kesana. Sayang para surfer lokal masih jarang. Kalau lihat di google memang kebanyakan orang bulenya.

Ombak di Mentawai merupakan terbagus no. 3 setelah Hawaii dan Tahiti. Berikut infromasi yang didapat dari situs mysurfbrand :

3. Lance’s Right, Indonesia - Remote and tucked away in the Mentawai Islands, Lance’s Rights (Hollow Trees) is a world class right hander breaking sharply over shallow coral reef. Optimal size is 4-8 ft and is harder to surf than the surf mags make it look. Typically, getting to Lance’s Right is a bit of a mission. Most people fly to Padang, stay overnight before catching a transfer out to the Mentawai Islands the next day. Its expensive too, Most people who surf the Mentawais go by charter boat and pay up to whopping $US450 per day! Take heart tho, you can do it cheaply aswell by staying in a camp up there.

Sedangkan Uluwatu-Bali dan Lakey Peak, Sumbawa-Indonesia termasuk perangkat ke 17 dan 19.Ombak yang bagus menurut Pak Rudi_silausumatra yang disampaikan di west-sumatra.com :
Di Mentawai dimulai pada awal Februari, bagi surfer best seasonnya itu pada bulan Mei, Juli, Agustus. Bulan September adalah saat paling ramai disana. Dan Kandui berada di Surf Playground Area yaitu di Siberut Selatan (Muara Siberut), banyak terdapat spot-spot wafe world class.
Untuk pemandangannya juga sangat bagus. Kebudayaan dan hutan masih bertahan dan asri.
Jika ingin lihat video para surfer luar negeri main ombak di Mentawai, bisa cari di youtube dengan kunci pencari “surf Mentawai”.
Kalau ingin mancing, disana olahraga yang juga menarik. Ikannya gede-gede.
Jadi … ga usah jauh-jauh kan ke luar negeri atau kalau sudah bosen ke Bali, coba datang ke Mentawai.
And … ini penting banget … JANGAN RUSAK ALAM DISANA. Belajar dari pengalaman di Nias, setelah dirusaknya alamnya pariwisata disana sudah tidak menarik dan sepi pengunjung.
Kalau ada yang ngerusakin, berurusan sama GW dan orang-orang di west-sumatra …. hehehe …
Sumber :
WavePark Mentawai
West-Sumatra.com
http://rickyds905.multiply.com
mentawaiisland.com

Gempa yang terjadi di Padang dan Jambi diperkirakan masih akan terus berlanjut. Rentetan gempa diprakirakan akan bergerak ke arah utara Indonesia.

Hal tersebut berdasarkan penelitian Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), yang diinformasikan pada para wartawan, Kamis (1/10/2009).

Bakosurtanal menyebutkan, potensi gempa akan terus terjadi dengan kekuatan sedang hingga besar. Hal ini dikarenakan adanya pergeseran tiga lempengan bumi yang saling menyesuaikan posisi, setelah patahan Sumatera bergesek.

Ahli Geodesi Tektonik Bakosurtanal, Cecep Subarya, menuturkan para peneliti dunia masih menganggap gempa sebagai hal yang misterius. Karena belum ada yang mampu mendeteksi waktu terjadinya gempa, selain mempercayai kearifan lokal dengan tinggal di lokasi yang layak, membangun dengan infrastruktur yang baik, serta masih meyakini gejala alam yang diperlihatkan oleh binatang atau gejala alam lainnya.

Sementara mengenai banyaknya korban jatuh saat terjadi gempa bumi dianggap sebagai tanggung jawab pemerintah. Karena pemerintah membiarkan penduduk tinggal di lokasi dan struktur yang salah

kerang penghasil mutiara

Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya) Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap) Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar.

Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.
Australia Utara & Indonesia
Kawasan ini merupakan areal tempat hidup kerang mutiara. Sepanjang pantai utara Australia, ke utara di perairan Arafura, Indonesia (Dobo) dan ke arah timur melewati Selat Torres, selat yang memisahkan Australia dan pulau Papua. Titik-titik kumpulan kerang mutiara di daerah ini ditemukan sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Jenis kerang pada umumnya adalah Pinctada maxima. Kawasan Dobo adalah kawasan terkenal sehingga mutiara yang dihasilkan dari daerah ini disebut mutiara Dobo. Sementara di kawasan Australia, beberapa titik merupakan areal kumpulan kerang mutiara yang banyak seperti di Shark Bay dan Thursday Island. Jumlah penyelam yang mati di kawasan ini termasuk tinggi, umumnya akibat serangan hiu

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

akarta (ANTARA News) - Para pakar geologi Indonesia, AS dan Prancis berhasil menemukan gunung api bawah laut raksasa berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter yang berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

"Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua, " kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.

Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

"Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus," katanya.

Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km) yang meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS dan Perancis kemudian bekerjasama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam

Gunung Puncak Jaya Irian Nusantara


Puncak Jaya atau Gunung Jaya ialah sebuah gunung yang terdapat di provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian setinggi 4884 m sehingga terdapat salju di puncaknya. Gunung ini terletak di Barisan Sudirman.

Gunung ini dulu pernah bernama Poentjak Soekarno dan merupakan gunung yang tertinggi di Oceania. Puncak Jaya adalah salah satu dari Tujuh Puncak Utama dunia.

Nama-nama/ejaan lain:
Ngga Pulu
Gunung Carstensz
Piramida Carstensz
Puncak Carstensz
Puncak Jayakesuma
Puncak Piramida Carstensz
Ndugundugu

Gunung Kelimutu


Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi NTT, Indonesia. Lokasi gunung ini tepatnya di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Gunung ini memiliki tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.

Gunung Krakatau


Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.