Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Senja

Ketika “ Senja” mulai menampakan dirinya di ufuk barat,tlah kusiapkan hatiku....

Aku ingin menyapanya sore ini dan memohon sesuatu padanya!...

Ketika Jingganya mulai menyentuh hatiku,
kubertanya padanya, tak adakah warna lain selain Jinggamu?...
Aku inginkan sesuatu yg lebih dari sekedar warna Jingga!
Bisakah kau berikan kepadaku wahai “ Senja”?...


“ Senja” hanya terdiam ....
Dalam hatinya ia hanya berucap “Apakah ada warna yg lebih indah selain Jinggaku?...”

Lalu aku bertanya lagi,
tak bisakah kau hadir sepanjang hariku wahai “ Senja”?...
Belum puas rasanya aku menikmati Senjamu,
mengapa malam begitu bergegas menjemputmu?...


Senja kembali tertegun dengan pertanyaanku.
Mungkin di hatinya ia kembali berujar, “Apakah bisa kau nikmati Aku sepanjang harimu?...“

Belum sempat “ Senja” menjawab, kembali ku bertanya...
Bisakah aku menjadi “Langit” tempat peraduan Lembayungmu, meskipun hanya sesaat??.....

Senja enggan menjawab,
Ia hanya bergumam dalam hati, “Apakah bisa kau melihat seluruh isi dunia, laksana Langitku?”...

Mengapa kau hanya terdiam , wahai “ Senja”?....
Jawablah semua pertanyaaan-pertanyaanku!.

Senja hanya tersenyum sambil menatapku dengan penuh keheranan, kemudian berkata,
“Sebelum aku jawab semua pertanyaanmu, bolehkah aku bertanya ? "

“Apakah itu, wahai Senja?”...
Bisakah kau melihat warna jinggaku tanpa menggunakan kedua matamu?....

Apakah mungkin kau hidup tanpa kehadiran dan hangatnya “Sang Mentari” didunia ini ?...

Mampukah kau berjalan mengelilingi dunia bagaikan “Langit”, peraduan lembayungku?....
Aku tertegun tak bisa menjawab semua pertanyaan “ Senja”......

“ Senja” berbisik..., nikmatilah aku yang hanya sesaat ini..

Jadikanlah waktumu yang sangat singkat ini, hanya untuk menikmati keindahan Jinggaku.....
Dengan begitu, hari-harimu akan menjadi penuh warna.

Aku adalah Aku, biarkanlah Aku tetap menjadi “Senja” seperti apa adanya!!.....
Seperti ketika kau menemukanku ditemaram langit.....

Dialog Dua Hati

Sang lelaki :

Kekuatan apa ini ?
yang sekali waktu menguatkan dan mencerahkan hatiku,
meski terkadang menghadirkan perih dan meruntuhkan pertahananku.
Akhh,..kutemukan dia dalam kelelahan jiwanya.
Ketika mata bertemu pandang,aku tahu....
dia tlah menyerah pada kelelahan.
Hatinya tlah menyerah pada kesunyian.

siapakah kau,..?
wanita bertudung kesunyian,atau kah bertudung kegelapan.
aku terus bertanya,...tak kutemukan jawab sampai kutemukan dia dalam rengkuhanku.
cinta....

Sang wanita :

Aku takut suatu hari kelak,seorang tiran menguasaiku.
membawaku pada lorong-lorong gelap,
menjatuhkanku pada kegelapan tak berdasar.
pada cinta yang mengikatku hingga ku tak mampu meski hanya untuk bernafas.

Hingga pada suatu hari kau mengunjungi gubuk jiwaku,
mengulurkan jemarimu,dan menemukan aku.
Kini di setiap pagi hingga senja menjelang,bahkan ketika penguasa siang menghilang.
dari balik jendela,....
diantara hiruk pikuk dan riuh rendah manusia berlalu lalang,
coba kau dengar dengan hatimu....
diantara udara dan cahaya yang ku singkap,ada kau....
mengisi setiap sudut hati hingga ke penjurunya.

* Aku :

Akkhhh,....aku hanya penonton saja....!
ketika dua manusia berdialog menggunakan hatinya,siapakah yg mampu memahami ?
kecuali hati mereka berdua

Menatap Mawar Pada Laut, Engkaukah Itu?

Pagi dingin ini mawar terdiam hilang suara
Mengapa pucat merah mawar?
sebaris semut, kumbang dan kupu mengepak sayap tak percaya
mawar rekah senyum pada nelangsa
aku mencari lukisan dalam gairah air dari syurga
tapi mengapa kau kenakan pakaian hitam-hitam itu
sedangkan matahari telah menggantikan bulan?
aku mencari air ,mawar tatap kedepan bentangkan jiwa
Mahasuci pemberi air itu
Maha besar penciptanya pada setiap kehausanku



Pagi dingin ini mawar menitikkan getihnya dalam nestapa
gugur daunnya helai demi helai bersama istighfar akan
luka-luka ketika selaksa jarum menyobek kelopak merah darah
layu batang mawar pada lelahnya duri yang menancap setajam kaca
Basah zikirnya untuk terus menatap kemana pinta jiwa
Mahakasih Dia yang tau aku dimana
Mahacinta Dia yang menatapku dikejauhan dimana

Dalam diamnya mawar mengumpulkan seluruh kelopak yang
berceceran ditanah
Angin, tolong terbangkan aku sehingga dapat
berenang,mengapung dan bercengkarama dengan ikan-ikan
yang bebas dimana-mana disebuah taman pinta para nelayan
Hujan basahi aku sehingga alirmu bisa membawaku
bermuara disebuah taman syurga para ikan-ikan
Matahari bakar aku agar uapku jatuh kembali ketaman
menyiarkan wewangian pada karang bertebaran
Oh, ombak ayun aku aku dapat bersandar pada perahu
yang ditambatkan di melautnya sejuta keinginan.

Dalam merahnya airmata dipagi dingin ramadhan
mawar diam memohon pada tuhan akan lautan
mawar diam basahkan dirinya selalu tak lelah pada Engkau
Ombak lautan tersenyumlah pada mawar
angin lautan sehingga mawar terbawa dalam buaian

PUSUK BUHIT, GUNUNG LELUHUR BATAK

Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah. Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.

Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak.

Umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit, sebuah bekas gunung vulkanis dekat Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir). Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mula-mula Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit,. di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.

Sebelum menaiki puncak Pusuk Buhit Anda perlu berkeliling lingkar jalan tersebut sambil menikmati pemandangan ke kawasan hijau lembah, bukit, dan arah Danau Toba. Celah di bagian lingkar Timur Pusuk Buhit juga ada air hangat yang mengandung belerang jika angin pegunungan Bukit Barisan ternyata membuat badan semakin dingin menjelang malam. Setelah itu Anda dapat meneruskan rencana mencapai puncak Pusuk Buhit lewat jalan dan petunjuk dari perkampungan itu. Ketinggian Pusuk Buhit mencapai 1077 meter dari permukaan danau. Semoga dari puncak Pusuk Buhit Anda merasa akan dapat mencapai langit waktu bintang-bintang berkedipan di angkasa sebelum matahari terbit.

Simardan – Durhaka Kepada Orang Tua, Berubah Wujud Menjadi Pulau

Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas. Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan. Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.

Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.

Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai. Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red). Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli. Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun

Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga. Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.

“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu

Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung. Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.

Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.” Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal

Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.

Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.

Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung. “Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”

Hikayat Boru Napuan

Raja Mangatur (II) Manurung menikah dengan Nantiraja Boru Rumapea putri dari Pu Lahang Mahua Rumapea dari pulau Samosir. Raja Mangatur (II) Manurung adalah kakek dari Tuan Sogar Manurung. Pu Lahang Mahua Rumapea memiliki tiga orang putra dan tiga orang putri.

Ketiga orang putranya itu adalah

1. Puraja Naginjang,
2. Guru Badia
3. Raja Natota.

Dan ketiga orang putrinya adalah :

1. Nantiraja menikah dengan Raja Mangatur Manurung
2. Nanti Malela menikah dengan marga Tamba/Saragi
3. Siulatahi menikah dengan marga Sitanggang

Boru Nantiraja istri Raja Mangatur telah memiliki beberapa orang anak laki-laki dan adiknya Nantimalela yang menikah ke Tamba/Saragi telah memiliki beberapa orang anak perempuan. Ketika Nantiraja baru melahirkan anak lakilaki, beberapa hari kemudian, adiknya Nantimalela melahirkan seorang putri di Pulau Samosir. Nantiraja berangkat ke Samosir mengunjungi adiknya yang baru melahirkan, dan putranya yang baru lahir turut dibawa.

Nantiraja memangku putri adiknya itu, dan Nantimalela juga memangku putra kakaknya. Setelah puas melepas rindu dan kebahagiaan mereka, Nantiraja pulang ke Uluan. Diperjalanan, saat mengganti popok bayinya, dia menyadari bahwa bayi yang dipangkuannya adalah perempuan, dan sudah pasti adalah bayi adiknya Nantimalela. Nantimalela juga mengalami hal yang sama di Samosir, putra kakanya tertinggal dan putrinya terbawa. Setelah berita itu saling diketahui kedua belah pihak, akhirnya disepakati akan mengembalikan pada waktu ada kesempatan.

Lama kelamaan, mereka menyayangi bayi tersebut dan dianggap anak sendiri dan dibesarkan hingga dewasa. Marga yang mereka gunakan untuk anaknya itu adalah sesuai dengan marga suaminya masing-masing.

Putra Nantimalela yang dilahirkan Nantiraja tetap menggunakan marga Tamba/Tamba dan tinggal di Samosir.

Putri Nantiraja yang dilahirkan Nantimalela diberi nama Boru Napuan dengan gelar Boru Inggal-inggal dan dimanjakan dan disayang semua keluarga Manurung dan tetap menggunakan marga Manurung.

Setelah dewasa, Boru Napuan menikah dengan Raja Parmata Manunggal Damanik dari Sipolha. Manurung bersaudara mendapatkan berupa barang pusaka dari mertua Napuan karena Raja Parmata Manunggal adalah turunan orang berada dan seorang raja yang dihormati di Sipolha.

Legenda Putri Bidadari “Si Boru Natumandi Hutabarat”

gadis ini selalu dipingit oleh kedua orangtuanya karena parasnya yang cukup cantik bak seorang bidadari. Di zamannya, gadis ini diyakini yang tercantik diantara gadis-gadis di Silindung (Tarutung). Tak heran, banyak pria yang tergila-gila kepadanya. Namun gadis ini menurut cerita masyarakat dan keturunan keluarganya yang saat ini masih hidup terakhirnya menikah dengan seekor ular.
Berikut hasil penelusuran wartawan media ini, tentang legenda Si Boru Natumandi selama sebulan lebih. Berawal saat si boru Natumandi diusianya yang sudah beranjak dewasa, memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai seorang petenun ulos. Disebuah tempat khusus yang disediakan oleh orangtuanya, setiap hari Si boru Natumandi lebih sering menyendiri sambil bertenun, kesendirian itu bukan karena keinginannya untuk menghindar dari gadis-gadis desa seusianya, namun karena memang kedua orangtuanya lah memingit karena terlalu sayang.
Sayang, saat penelusuran ke berbagai narasumber untuk mengetahui siapa sebenarnya nama kedua orangtuanya, marga-marga Hutabarat yang tinggal di Desa Hutabarat Banjar Nauli, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Tempat asal kampung halaman Si boru Natumandi) tidak satupun yang mengetahui persis siapa nama kedua orangtuanya.

Namun salah satu warga Desa Hutabarat yakni Lomo Hutabarat (51) yang mengaku satu garis keturunan dengan keluarga Si Boru Natumandi belum lama ini berkata, bahwa dulunya kampung halaman Siboru Natumandi adalah di Dusun Banjar Nahor, Desa Hutabarat, namun dusun itu kemudian pindah sekitar 500 meter dari desa semula dan sekarang diberi nama Dusun Banjar Nauli.
Dikatakan Lomo Hutabarat, bahwa dari 3 anak si Raja Nabarat (Hutabarat) antara lain Sosunggulon, Hapoltahan dan Pohan, Si boru Natumandi dikatakan berasal dari keturunan Hutabarat Pohan. Hanya penuturan itu yang dapat diperoleh dari Lomo Hutabarat. Sementara itu keturunan Si boru Natumandi lainnya yakni L Hutabarat (76) mengisahkan, bahwa dia juga tidak mengetahui persis cerita yang sebenarnya tentang Si boru Natumandi, menurutnya ada beberapa versi tentang legenda gadis cantik ini.
Berikut kisah Siboru Natumandi yang diketahui L Hutabarat. Suatu hari di siang bolong, Si boru Natumandi sibuk bertenun di gubuk khususnya, tiba-tiba seekor ular besar jadi-jadian menghampirinya, konon ular tersebut dikatakan orang sakti bermarga Simangunsong yang datang dari Pulau Samosir. Saat ular itu berusaha menghampiri si boru Natumandi, ia justru melihat sosok ular tersebut adalah seorang pria yang gagah perkasa dan tampan. Saat itulah, sang ular berusaha merayu dan mengajak Si boru Natumandi untuk mau menikah dengannya.
Melihat ketampanan dan gagahnya sang ular jadi-jadian tersebut, Siboru Natumandi akhirnya menerima pinangan tersebut, setelah pinangannya diterima, sang ular kemudian mengajak Si Boru Natumandi untuk pergi menuju kearah sungai Aek Situmandi dan melewati tempat pemandian sehari-hari Si boru Natumandi di Sungai Aek Hariapan. Dari tempat itu, mereka meninggalkan pesan kepada orangtua Si Boru Natumandi dengan cara menabur sekam padi dari tempat bertenun hingga ke Liang Siboru Natumandi sekarang. Pesan sekaligus tanda itu artinya agar Bapak/Ibu dan semua keluarga mengetahui kalau dia telah pergi dan akan menikah dengan seorang pria, dimana sekam padi tersebut bermakna sampai dimana sekam ini berakhir, disitulah Si Boru Natumandi berada.
Sore harinya, saat kedua orangtuanya pulang dari perladangan, mereka mulai curiga melihat putri semata wayang mereka tidak ada ditempatnya bertenun dan juga tidak ada dirumah, akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk memberitahukan warga sekitar untuk melakukan pencarian.
Melihat sekam padi yang bertaburan bak sebuah garis pertanda dan tak kunjung ditemukannya Si boru Natumandi hingga keesokan harinya, akhirnya taburan sekam di tepi sungai Aek Situmandi dan berujung disebuah liang/gua yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kampung halaman Si boru Natumandi diyakini kalau Si boru Natumandi menikah dengan seekor ular.
Namun versi cerita lainnya, ternyata Si boru Natumandi tidak menikah dengan siluman ular yang bermarga Simangunsong, akan tetapi siluman ular tersebut malah meninggalkan si boru Natumandi begitu saja disebuah hamparan tak berpenduduk.
Setelah ditinggalkan begitu saja, Si boru Natumandi terus menerus menangis karena telah tertipu siluman ular tersebut, namun ketika itu seorang pengembala datang dan menghampirinya, penggembala tersebut juga terpikat melihat keindahan tubuh dan kecantikannya, lalu sipengembala mengajaknya agar mau menikah dengannya. Konon dalam versi ini, si pengembala tersebut dikatakan bermarga Sinaga.
Sipengembala kemudian membawa Si boru Natumandi ke Pulau Samosir untuk dinikahi. Berselang beberapa generasi keturunan si boru Natumandi dan sipengembala bermarga Sinaga tersebut di Samosir, keturunannya dikatakan pernah berusaha mencari asal usul si boru Natumandi (Untuk mencari Tulang/pamannya). Usaha pun dimulai dengan menyeberangi Danau Toba dengan sebuah perahu kayu menuju Kota Tarutung dengan membawa sejumlah makanan khas adat batak. Namun sesampainya di Sipoholon (Kota Sebelum Tarutung saat ini) ada keturunan Hutabarat Pohan bermukin disana, yakni dari keturunan Raja Nabolon Donda Raja.
Saat rombongan bertanya tentang Si boru Natumandi, keturunan Raja Nabolon Donda Raja yang tinggal di Sipoholon langsung mengakui kalau merekalah keturunan si boru Natumandi, dan saat itu makanan yang dibawa keturunan si boru Natumandi langsung mereka terima hingga akhirnya acara syukuran pun dilakukan. Padahal keturunan Si boru Natumandi sebenarnya adalah anak kedua dari si Hutabarat Pohan yakni si Raja Nagodang yang sampai saat ini masih ada tinggal di Dusun Banjar Nauli.
Setelah acara syukuran dilakukan, rombongan keturunan Si Boru Natumandi pun berangkat kembali ke Samosir untuk memberitahukan kabar tersebut kepada keluarga. Namun saat menyeberangi Danau Toba perahu yang mereka tumpangi tenggelam hingga semua yang ada dalam perahu meninggal dunia.
Versi selanjutnya, Si boru Natumandi dikatakan menikah dengan resmi, hal ini menurut L Hutabarat, karena sejak dia masih kecil pernah melihat sebuah guci yang terbuat dari kayu tempat mas kawin si boru Natumandi di rumah saudaranya boru Simatupang. Saat itu, boru Simatupang mengatakan kepada L Hutabarat bahwa guci tersebutl adalah tempat mas kawin si boru Natumandi.
Guci tersebut konon memiliki sejarah tersendiri, dimana isi guci tersebut hanya dipenuhi kunyit yang suatu saat akan berubah menjadi kepingan/batangan emas, hal ini diberikan dan dipastikan keluarga suami Si boru Natumandi yang memiliki kesaktian, dan selanjutnya kepada kedua orangtuanya diminta untuk tidak membuka guci tersebut sebelum tujuh hari tujuh malam. Akan tetapi, orangtua Si boru Natumandi melanggar permintaan tersebut.
Setelah kedua orangtuanya membuka guci itu, ternyata kunyit tersebut sudah mulai berubah mejadi batangan emas murni. Nasib sial pun dialami kedua orangtua si boru Natumandi kala itu. Tatkala usia orangtua si boru Natumandi beranjak ujur, akhirnya mereka menimbun emas tersebut di Dolok Siparini (Masih di Desa Hutabarat) karena takut akan menjadi bahan rebutan bagi adik-adiknya dan keluarganya (Dari pihak laki-laki) suatu saat nanti, sebab banyak diantara keluarganya yang mengetahui tentang kisah guci ini.
“Cerita saya ini bukanlah yang menjadi sejarah yang pasti, saya juga hanya mendengar cerita-cerita dari sejak saya masih kecil, sehingga cerita saya tadi bukanlah yang bisa saya bilang pasti, kalau cerita sejarah yang sebenarnya tidak ada lagi sekarang yang tahu,” tutur L Hutabarat sambil meneguk kopinya yang sudah mulai dingin.
Saat ini, lokasi Gua Liang Si Boru Natumandi dijadikan sebagai salah satu objek wisata oleh Pemkab Taput. Banyak orang berkunjung ke tempat ini untuk meminta rejeki atau hal-hal lain. Hal terbukti dimana dilokasi liang Si Boru Natumandi terdapat tumpukan-tumpukan sesajen yakni berupa puntungan-puntungan rokok yang tersusun teratur dan beberapa kelopak daun sirih. Sayangnya, penataan objek wisata ini masih kurang mendapat perhatian dari pihak Pemkab Tapanuli Utara. Sebab disekitar lokasi ini, masih belum ada penataan objek wisata yang baik, dan masih banyaknya sampah di areal gua in

The Legend of Sangkuriang

According to local folklore, the formation of the Tangkuban Parahu volcano began with a young man SANGKURIANG who fell in love with his own mother, DAYANG SUMBI.
One day, when he was hunting, Sangkuriang accidentally killed his beautiful black dog (Si TUMANG). This dog is actually Sangkuriang's father who had been condemned to live the life of a dog by his GURU. However, Sangkuriang never knew it.

Sangkuriang had been separated by his mother since childhood. Yet, he was destined to meet his mother again. When on his way home, he stopped at a small village and met and fell in love with a beautiful girl. He didn't realised that the village was his homeland nor that the beautiful girl was his own sacred mother (remain young & pretty).
Their love grew naturally and one day, when they were discussing their wedding plans, Dayang Sumbi suddenly realised that the profile of Sangkuriang's head matched that of her only son's who had left twenty years earlier. How could shee marry her own son? But she did not wish to dissapoint him by cancelling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provide her with a lake and a boat with which they could sail on the dawn of their wedding day.
Sangkuriang accepted this condition and built a lake by damming the Citarum river. Wiath a dawn just moment away and the boat almost complete, Dayang Sumbi realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. With a wave of her supernatural shawl, she lit up the eastern horizon with flashes of light. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.
With his work not yet complete, Sangkurinag realised that his endeavour were lost. With all his anger, he kicked the boat that he himself had built. The boat fell over and, in so doing become the mountain TANGKUBAN PARAHU (in Sundanese, TANGKUBAN means upturned or upside down, and PARAHU means boat). With the dam torn assunder, the water drained from the lake becoming a wide plain and nowaday became a city called BANDUNG (from the word BENDUNG, which means Dam).
[From: INDONESIA: TANGKUBAN PARAHU Booklet, published by PERUM PERHUTANI UNIT III - JAWA BARAT, KPH BANDUNG UTARA. Jl. CIrebon No. 4-A. Telephone: (022)-771142, Bandung.]

Telaga Bidadari

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. "Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

Datu Awang Sukma.

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. "Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

Asal Usul Danau Toba


Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar," gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku." Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam petani.

"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu. "Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu," kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! " kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

Moral : Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan.

Tanah Batak dan Tanah Tuhan

Pelayaran orang Mesir kuno ke berbagai belahan dunia telah diketahui bermula sekitar 4000 tahun yang lalu. Setidaknya berbagai literatur dan bukti-bukti sejarah telah mengarah kepada adanya pelayaran kuno yang bahkan telah sampai ke benua Amerika beberapa abad sebelum ditemukan oleh Colombus.

Para arekeolog telah menemukan sisa-sia kapal berusia 4000 tahun, kapal tertua yang menjelajahi lautan dunia, di goa-goa dekat Laut Merah. Keenam goa buatan manusia itu digali di Wadi Gawasis, sekitar 13 mil (21 Kilometer) selatan pelabuhan Safaga. Kapal itu mungkin merupakan salah satu dari beberapa kapal yang digunakan Ratu Mesir Hatshepsut untuk ekspedisi perdagangan ke selatan Laut Merah pada sekitar 1500 SM.

Beberapa benda ditemukan seperti papan-papan dan kayu-kayu dek, dayung, kotak-kotak kargo, jangkar-jangkar batu, pot-pot tembikar, dan gulungan tali yang masih utuh di dalam gua. Kondisi papan kayu dan artefak yang lain tersebut mengindikasikan bahwa orang-orang Mesir tampaknya membawa kapal-kapal itu dalam bentuk kepingan sejauh 90 mil (145 kilometer) dari padang pasir terbuka menuju Laut Merah, di mana kemudian kapal tersebut dirakit menjadi sebuah kapal yang utuh.

Huruf hieroglif pada pot tembikar dari goa tersebut memperlihatkan detail ekspedisi perdagangan ke Punt. Punt atau yang diartikan Tanah Tuhan, merupakan pusat perdagangan yang misterius dari mana orang-orang Mesir memperoleh dupa (kemenyan) dan barang-barang berharga lainnya.

Para akademisi bertahun-tahun memperdebatkan letak Punt serta bagaimana orang Mesir pergi dan pulang dari tempat yang menjadi “dongeng” itu. Inilah yang menjadi masalah? Di manakah Punt itu sebenarnya? Bila kita melihat bahwa tujuan pelayaran tersebut adalah mencari dupa, bukankah dari dulu kala tempat muasal dupa dan kemenyan adalah di tanah Batak. Apakah Punt tersebut adalah Pancur, Pansur atau Fansur atau yang disebut oleh orang Cina dengan istilah P'o-lu atau P'o-lu-shih??? Dari manakah Ptolemy menemukan Barus, Tanah Batak, di abad ke-2 SM, kalau bukan dari tradisi berlayar bangsa Mesir sejak zaman kuno?

Dalam tulisannya La Cola del Dragón, Paul Gallez mengemukakan sebuah perkiraannya yang menjelaskan pelayaran kuno ke tanah yang jauh yang sampai sekarang masih misterius. Sebuah pelayaran yang dikatakan menuju Tanah Punt (Richard Hennig, Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, in vol. I, pages 5-13).

Inilah sebuah pelayaran yang pernah dikenal dalam sejarah (mungkin saja sebelumnya ada) yang dikirim oleh Dinasti kelima Fir’aun, dalam pemerintahan Sahure sekitar 2550 SM. Kapal-kapalnya dikatakan membawa kembali kemenyan (dupa), myrrh, emas, perak, kayu-kayu berharga (meranti? yang menjadi andalan tanah Batak) dan para budak, dari Punt dan tanah-tanah dan pulau di sekitarnya.Walaupun begitu, tidak semua barang-barang tersebut didapatkan dari Punt, ada beberapa nama yang disebutkan dalam perjalanan tersebut.

Dinasti Fir’aun dari pemerintahan Asa (Isei) mengulangi ekspedisi Sahure, dan pada tahun 2400 SM dia juga mengirimkan armada lautnya ke Punt. Salah satu putri kaisar dinasti yang keenam tersebut dimasukkan ke peti jenazah untuk dibawa ke Tanah Kematian, bibirnya diwarnai dengan logam keputihan, sebuah benda yang benar-benar belum dikenal di Mesir dan negara-negara tetangganya. Batu yang berada di pusaran Knemhopet, seorang nakhoda dari pulau Elephantine yang telah melakukan sebelas kali perjalanan ke Punt, mempunyai penanggalan yang sama dengan periode perlayaran tersebut (Paul Herrman; La aventura de los primeros descubrimientos, Labor Encyclopaedia, 1967).

Selama pemerintahan Dinasti yang kesembilan, Fir’aun Seanjkare mengirimkan beberapa ekspedisi ke tanah misterius tersebut dengan keberhasilan yang sama. Perjalanan yang paling berhasil dan paling terkenal adalah yang diorganisir oleh Ratu Queen Hatshepsut (kadang-kadang dipanggil Hacheput, Hatcheposut, Huschpeswa, Hatashopsitu, Hachepsowe, Hatasuput and Hatscheposut, 1501-1482 SM) yang diabadikan dalam tulisan di kuil Deir-el-Bahari. Kuil ini dibangun atas prakarsa Ratu di Thebes untuk mengenang jasa-jasa Amen-Ra.

Kekuatan utama dari ekspedisi Ratu terbuat dari lima kapal raksasa untuk ukuran saat itu dengan tiga puluh pelaut per kapalnya. Mereka berlayar menuju ke selatan Laut Merah dan menempuh waktu selama tiga tahun.

Salah satu inskripsi di kuil Deir-el-Bahari mengemukakan: “Penduduk di sana bertanya: Bagaimana kalian bisa sampai ke sini yang belum diketahui oleh manusia? Bagaimana kalian terbang ke sini melalui langit atau apakah kalian sampai ke sini melalui Samudera Luas dari dari arah Tanah Tuhan?” (Richard Hennig: Terrae Incognitae, 4 vols, Leiden, Brill 1950, I, 5, Ophir).

Diyakini bahwa penduduk yang bertanya tersebut adalah penduduk Benua Amerika. Sementara Samudera Luas yang dimaksud adalah Samudera Pasifik dan tanah yang dilalui mereka atau Tanah Tuhan yang dimaksud adalah sebuah daerah sebelum Samudera Pasifik yang menjadi pusat perdagangan saat itu yakni Barus.

Untuk sekedar diketahui, Benua Amerika khususnya peradaban Maya telah melakukan kontak hubungan sejak 4000 tahun yang lalu dengan peradaban Batak yang ditunjukkan dengan adanya transfer teknologi pembuatan kertas dari kulit kayu dari Bangsa Batak ke Bangsa Maya.

Dari legenda kehidupan Ramses IV dari Harris Papyrus di British Library, Ramses III diketahui mengirimkan ekspedisi terakhirnya dalam jumlah besar sekitar 10.000 orang ke Punt sekitar 1180 SM. Sementara itu ekspedisi yang paling terkenal ke Barus terjadi pada sekitar abad ke-2 M oleh Ptolemy.

Para ahli dari Mesir tidak pernah sepakat mengenai makna dari Tanah Punt tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah Eritrea, Somalia, Zimbabwe, Hadramaut atau India. Tapi melihat dari lamanya berlayar dan muatan-muatan yang mereka bawa yang dimaksud Punt tersebut kemungkinan besar adalah Barus yang juga dikenal dengan nama Pancur yang merupakan penghasil satu-satunya kemenyan dan emas sejak zaman kuno. Kemungkinan besar pula, dari Barus mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur melewati Samudera Pasifik sampai ke Benua Amerika yang dihuni oleh Bangsa Maya.

Orang Libya-Mesir Di Amerika Kuno

Pelayaran-pelayaran Dinasti tersebut di atas juga menjadi sangat menarik dengan keberadaan beberapa manuskrip di Benua Amerika, yang menunjukkan adanya pelayaran kuno yang sangat berhasil dari Mesir (Afrika) ke Amerika melalui Nusantara (Barus atau Punt) melewati Samudera India dan Pasifik.

Paul Gallez, menjelaskannya dalam Predescubrimientos de América (Instituto Patagónico, Bahía Blanca 2001, p 52 onwards), yang mengatakan bahwa pada tahun 1976, Barry Fell (América A.C. Los primeros colonizadores del Nuevo Mundo. México, Diana 1983) telah memberikan sebuah terjemahan sebuah inskripsi yang terdiri dari tiga bahasa yang ditemukan di perkuburan di Davenport, Iowa. Inskripsi tersebut terdiri dari bahasa Mesir, Funisia dan Libya.

Batu tersebut bertanggal 800 SM, dalam pemerintahan Dinasti Mesir yang ke-21 yang berpusat di Libya. Kalimat-kalimatnya menjelaskan masalah-masalah astronomi, agama dan tradisi-tradisi dengan huruf-huruf Mesir kuno. Menurut para ahli, mumi-mumi Mesir yang diawetkan dalam masa yang sama menggunakan tembakau dan kokain, dua produk khas dari Amerika. Pemumian di Mesir menggunakan berbagai bahan yang berbeda untuk masa yang berbeda, diyakini kemenyan dan kafur dari Barus juga digunakan sebagai bahan dasar untuk pemumian.

Orang-orang India Micmac dari Arcadia, Kanada, dikatakan dapat membaca tulisan-tulisan hieroglif Mesir kuno yang menunjukkan adanya hubungan antara Mesir dan Amerika zaman kuno. Misteri ini semakin menarik saat diketahui bahwa orang-orang Micmac percaya bahwa mereka menggunakan tulisan-tulisan gambar Mesir dan mereka mempelajarinya dari orang-orang Mesir. Bahkan orang-orang India Algonquin, diketahui, setiap tahun mengadakan upacara untuk menandakan perayaan kedatangan nenek moyang mereka ke Amerika dari laut seberang, namun mereka tidak tahu dari mana asal muasalnya.

Dalam bab yang lain, Fell menunjukkan sebuah inskripsi yang ditemukan di Texas, ditulis dengan bahasa Libya dengan menggunakan huruf Olgam, yang menceritakan kedatangan para pelaut dari sebuah kapal yang dimiliki oleh Raja Shishong, nama dari beberapa raja yang memerintah antara tahun 1000 sampai dengan 800 SM.

Barry Fell yakin bahwa koordinat yang ditemukan di batu prasasti yang ditemukan di Tinguiririca (34º 45´S) merupakan klaim teritorial Mesir. Prasasti tersebut ditemukan oleh Karl Stolp di sebuah gua di Andes pada tahun 1885 dan dipublikasikan pada tahun 1877 di jurnal Sociedad Científica de Chile.

Di tahun yang sama, pada bulan Oktober 1974, Barry Fell menelitik artikel Karl Stolp dengan menjelaskan kembali batu prasasti Tinguririca dan menemukan bahwa tulisan batu tersebut juga menunjukkan bahwa ekspedisi yang sama juga telah singgah di New Guinea. Fell menerjemahkannya sebagai berikut:

“Bagian selatan dari pantai dicapai oleh Mawi. Wilayah ini terdiri dari wilayah tanah pegunungan di bagian selatan, klaim kapten tersebut diwujudkan dalam bentuk proklamasi tertulis atas kepemilikan atas tanah. Armada kapal mencapai batas-batas selatan. Atas nama Raja Mesir, permaisuri dan putera mahkota, nakhoda kapal mengklaim tanah yang memanjang sekitar 4000 mil yang terdiri dari bebatuan, tanah tandus dan sampai ke atas.

Tanggal 5 Agustus, Tahun Keenam Pemerintahan Raja.”

Di saat itu, Fir’aun yang memerintah adalah Ptolemy III Evergetes, nama permaisurinya dalah Berenice dan putera mahkota adalah Fir’aun masa depan yakni Ptolemy IV Philopathor. Bahasanya menggunakan bahwa Libya, yang berhubungan dengan bahasa Mesir dan Maori Kuno; Tulisan Libya telah digunakan selama berabad-abad di Selandia Baru sampai abad ke-15 Masehi. Kemampuan Fell menerjemahkan bahasa Libya dan Maori telah membuat para ahli serius dengan temuannya ini.

Torquetum: Alat Navigasi Kuno

Torquetum adalah instrumen pintar yang dapat digunakan untuk menghitung koordinat tanpa penghitungan rumus-rumus lainnya. Alat ini disebut dengan nama “tanawa” sebelum masehi dan kemudian disebut dengan torquetum pada tahun 1492. Alat ini dapat mengukur jarak bulan dan benda-benda luar angkasa lainnya. Dengan bantuan tabel-tabel astronomi juga dapat mengukur secara kasar koordinat longitudinal.

Alat ini ditemukan di berbagai tempat di dunia. Salah satunya adalah di pantai McCluer dekat Sosora, Irian Jaya di sebuah gua yang disebut Gua Para Nakhoda. Sebuah prasasti kuno telah ditemukan di gua tersebut oleh Barry Fell pada tahun 1970. Dijelaskan bahwa pada tahun 232 SM, sebuah armada Mesir, yang terdiri dari enam kapal dengan komando Rata dan Mawi, seorang teman dari Eratosthenes, berlayar dari Laut Merah dan sampai ke pantai barat Amerika. Informasi ini disampaikan oleh Rick Sanders “Ancient navigators could have measured the longitude”, Oktober 2001, diterbitkan di 21st. Century Science & Technology Magazine. Sebuah prasasti yang berhubungan dengan yang ditemukan di Irian Jaya tersebut juga ditemukan di Tiguiririca (Cili), 34º 45´ S.

Kesimpulan

Argumen-argumen mengenai eksistensi Tanah Batak sebagai Punt atau Tanah Tuhan adalah sebagai berikut:

1. Adanya Barus atau Pancur sebagai Bandar pelabuhan kuno di tanah Batak. Barus telah diakui pernah disinggahi oleh Ptolemy di abad ke-2 M dan itu berdasarkan kepada peta yang dibuat sebelum zaman tersebut.

2. Kemenyan dan dupa, sejak zaman dahulu kala hanya ditemukan di Tanah Batak yang didapat melalui Barus. Mungkin saja kemenyan dapat ditemukan di belahan bumi lainnya, namun fakta sejarah mengatakan transaksi kemenyan yang paling lama ditemukan adalah di Barus. Dan kemenyan dari daerah ini merupakan mutu yang terbaik.

3. Di Barus juga ditransaksikan berbagai logam mulia dan didukung oleh adanya tambang-tambang emas kuno di banyak tempat di Tanah Batak yang tentunya mengundang berbagai bangsa untuk datang berdagang alias membelinya.

4. Terdapat banyak literatur yang mengarah kepada dupa dan kemenyan yang di dapat dari Barus yang diperkuat oleh ketertarikan Bangsa Arab, sebagai bangsa yang paling mengenal peradaban Mesir, Romawi dan Yunani Kuno, untuk mendatangi Fansur dengan sebutan berbagai keistimewaannya.

5. Gambar Naga Padoha diyakini mempunyai kesamaan dengan salah satu gambar dalam karya Ptolemy yang menguatkan eksistensi Barus dan Tanah Batak sebagai Bangsa yang beradab sejak dahulu kala.

6. Adanya hubungan budaya antara Batak dan Maya di benua Amerika yang diperkuat dengan kesamaan budaya teknologi kertas khususnya Maya Yucatan. Yang menunjukkan adanya pelayaran Batak Kuno menuju Benua Amerika melalui Samudera Pasifik

7. Barus dan Tanah Batak merupakan tempat transit pelayaran kuno dari berbagai bangsa kuno, khususnya India dan Cina yang tidak tertutup kemungkinan dari Mesir dalam perjalanan mereka ke timur melewati Samudera Pasifik.

8. Terdapat hubungan budaya yang sangat dekat antara Bangsa Maori di Selandia Baru dengan Mesir dari budaya Libya kuno. Tulisan Libya Kuno pernah dipakai berabad-abad di Selandai baru sampai abad ke-15 M. Kemungkinan besar Bangsa Libya kuno telah lalu lalang dari Afrika menuju Selandia Baru dan titik transit kuno yang paling logis adalah Barus.

9. Tanda bukti pelayaran Kuno Mesir-Libya ke berbagai negara khususnya Amerika telah terbukti dengan temuan prasasti di Irian Jaya dan Cili. Titik-titik ini merupakan jalaur-jalur pelayaran kuno dari Afrika Utara ke Amerika melalui Nusantara selain pelayaran kuno jalur Cina yang juga banyak mengambil jalur di Nusantara Indonesia. Pelabuhan tertua di Nusantara Indonesia adalah Barus.

10. Mengapa disebut Tanah Tuhan??? Pertama karena agama-agama pagan kuno banyak menggunakan kemenyan dalam ‘berkomunikasi’ dengan tuhan-tuhan mereka, dan kemenyan hanya tumbuh di Tanah Batak. Kedua, Produk lain seperti benzoin, kapur dan lain sebagainya yang bermanfaat untuk pengobatan dan pemumian di dapat di Tanah Batak. Apakah ini dapat diperkuat bahwa hanya di Tanah Bataklah sebuah legenda manusia pertama diciptakan langsung oleh Mulajadi Nabolon, tentunya, selain dari informasi Kitab Suci, teori evolusi Darwin dan kepercayaan Sinto.

11. Di berbagai tempat sebelum masuknya Belanda, di tanah Batak juga mengenal tradisi pemumian mayat yang menandakan hubungan kultur yang sangat erat antara Batak dan Mesir kuno, sehingga misteri “Tanah Punt” semakin mudah untuk dipahami.

Mungkin cerita di bawah ini sangat mengada-ngada tapi fakta-fakta di atas sepertinya membuat cerita ini semakin menarik. Dulu, di Bonapasogit, sesama anak-anak sering saling berbagi cerita satu sama lain. Cerita-cerita yang mereka dapat dari orang tua masing-masing. Salah satu cerita tersebut adalah mengenai kedatangan pelaut Mesir ke Barus. Karena sesuatu hal, mereka tidak dapat kembali ke negerinya dan menetap di huta-huta dekat pantai. Tiga orang di antaranya berinisiatif untuk mencari tempat yang lebih nyaman.

Dari pantai mereka berjalan ke desa-desa di perbukitan dan terus menanjak ke arah timur. Setelah tiba di pegunungan sekitar Danau Toba, mereka melihat pemandangan yang sangat indah dan memutuskan untuk menetap di daerah tersebut.

Mereka mencari tempat yang sesuai yang nyaman untuk dihuni. Mereka kemudian memilih satu wilayah yang kalau dari atas dapat melihat danau mengelilingi tempat tersebut. Setelah mereka menetap di sana, barulah orang-orang Batak mengetahui bahwa tanah tersebut telah dihuni oleh tiga orang Mesir.

Ketiga Mesir tersebut akhirnya menikah dengan orang-orang yang lalu lalang dan tempat tersebut akhirnya menjadi ramai. Daerah yang ternyata adalah sebuah pulau di Danau Toba tersebut akhirnya disebut dengan Sam-Mesir. Sam adalah angka tiga yang digunakan pada zaman kuno yang berari tiga. Dan Mesir adalah nama untuk orang Mesir. Sam-Mesir yang berubah menjadi Sam-Sir berarti tanah yang dibuka dan dihuni pertama sekali oleh tiga orang Mesir. Nama Sam-sir akhirnya mengalami perubahan dan akhirnya menjadi Sam-o-sir. Huruf o yang ditengah sepertinya berguna sebagai partikel sambung seperti kata Philosophy yang berasal dari Phil-o-sophy.

Nama Samosir sendiri sekarang ini merupakan nama sebuah pulau di Danau Toba yang menjadi tujuan wisata di Parapat. Kalau dibahas, memang tidak ada arti dari Samosir dari bahasa Batak. Sama seperti beberapa nama yang juga tidak mempunyai arti seperti Toba, Dairi, Balige, dan lain sebagainya. Nama Samosir yang terkenal menjadi aneh, karena biasanya semua nama tempat di Tanah Batak biasanya mempunyai arti yang terbuat dari bahasa Batak seperti Pancur, Fansur, Dolok, Toruan, Lintong Ni Huta, Sosor Gadong, Hauagong dan lain sebagainya. Benar tidaknya cerita tersebut, tidak ada yang tahu.

SISINGAMANGARAJA menurut cucunya (wawancara dengan Raja Napatar

Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja. Tidak ada yang tahu saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.

Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?

Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.

Mengapa tulang-belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?

Sory, bukan bermaksud untuk menghalangi anda untuk membacanya hanya saja terlalu banyak memakai halaman dan alangkah baiknya bila anda mendonloadnya saja karena anda bisa membacanya lain waktu bila anda berminat anda bisa download lebih lengkap terperinci di sini